Saat Suara Dibungkam, Kehancuran Menerkam

Sejarah tidak pernah mencatat kehancuran peradaban dimulai dari kritik yang jujur. Justru kehancuran selalu berawal ketika kebenaran dipaksa diam, ketika suara nurani ditekan atas nama stabilitas, dan ketika kekuasaan merasa cukup aman untuk tidak lagi mendengar. Dalam setiap fase runtuhnya bangsa-bangsa besar, terdapat satu pola yang berulang: suara dibungkam, lalu kehancuran datang tanpa permisi. Al-Qur’an sejak awal telah menegaskan bahwa kebenaran dan kebatilan tidak pernah berada pada posisi setara. Ketika kebenaran ditekan, kebatilan tidak menjadi netral ia justru tumbuh dan menguasai ruang sosial.

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 81)

Ayat ini menegaskan bahwa kebatilan tidak pernah menang melalui argumen, melainkan melalui pembungkaman kebenaran. Maka ketika suara kebenaran disenyapkan, yang sedang dipelihara bukan ketertiban, melainkan umur kebatilan itu sendiri. Dalam Islam, suara bukan sekadar hak sipil, tetapi amanah peradaban. Lisan dan pena adalah instrumen amar ma’ruf nahi munkar, kontrol moral yang menjaga agar kekuasaan tidak melampaui batas. Diam di hadapan penyimpangan bukanlah sikap aman, melainkan posisi ideologis yang berbahaya. Allah mengecam umat yang membiarkan kemungkaran berlangsung tanpa koreksi, karena sikap itu menandai kematian nurani kolektif.

Dalam Islam, suara bukan sekadar hak sipil, tetapi amanah peradaban. Diam di hadapan penyimpangan bukan sikap netral

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ... كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ
“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil… mereka tidak saling melarang perbuatan munkar yang mereka lakukan.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 78–79)

Laknat ini bukan semata akibat dosa individu, melainkan karena kemungkaran dibiarkan menjadi sistem. Ketika kritik dimatikan, kemungkaran tidak lagi berdiri sebagai penyimpangan, tetapi berubah menjadi kebijakan. Dalam realitas modern, pembungkaman sering hadir dengan wajah yang lebih rapi: regulasi, pasal-pasal karet, dan narasi stabilitas nasional. Kritik dilabeli ancaman, suara yang berbeda dianggap gangguan. Padahal, yang sesungguhnya mengancam persatuan adalah ketidakadilan yang tak pernah dikoreksi. Rasulullah ﷺ secara tegas menempatkan keberanian bersuara sebagai puncak jihad moral umat.

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Hadits ini bukan retorika heroik, melainkan peta peringatan peradaban. Ketika penguasa kebal dari kritik, dan rakyat kehilangan keberanian berkata benar, maka kehancuran bukan lagi kemungkinan ia menjadi proses yang sedang berjalan.

Islam juga mengingatkan bahwa kehancuran suatu kaum bukan datang tiba-tiba, melainkan setelah peringatan diabaikan dan suara kebenaran disingkirkan. Peradaban tidak runtuh karena terlalu banyak bicara, tetapi karena terlalu lama diam. Saat suara dibungkam, kehancuranpun makin mendekat

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا
“Dan negeri-negeri itulah yang Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. Al-Kahf [18]: 59)

Ayat ini menegaskan bahwa kehancuran adalah sunatullah. Ia tidak emosional, tidak reaktif, dan tidak bisa ditunda dengan propaganda. Ketika kezaliman dilegalkan dan kritik dibungkam, hitungan mundur peradaban telah dimulai.

Maka peradaban tidak runtuh karena terlalu banyak bicara, tetapi karena terlalu lama diam. Ketika ulama memilih aman, intelektual berkompromi, dan masyarakat dibiasakan bungkam, maka kehancuran tidak perlu diumumkan. Ia datang perlahan, senyap, namun pasti.

Islam tidak melahirkan umat yang bisu di hadapan kekuasaan, tetapi umat yang menjadikan kebenaran sebagai standar loyalitas tertinggi. Saat suara dibungkam, kehancuran tidak lagi perlu menerkam karena pintunya telah dibuka dari dalam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak