Memahami Rezeki

Setiap manusia, sejak lahir hingga akhir hayatnya, tak pernah lepas dari urusan rezeki. Ada yang mengejar dengan kerja keras siang malam,bahkan sampai tidak peduli cara haram maupun halal, ada pula yang merasa nasibnya kurang beruntung meski sudah berusaha keras namun tetap hidup dalam kekurangan, Padahal, Islam mengajarkan bahwa rezeki bukan semata hasil jerih payah, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang penuh hikmah.

Di tengah arus kapitalisme global, ukuran kebahagiaan dan kesuksesan sering kali diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Manusia berlomba-lomba mengejar keuntungan materi tanpa batas, bahkan tak jarang mengorbankan nilai, waktu, dan keluarga demi angka-angka di rekening. Sistem ekonomi yang menuhankan pasar dan materi telah menjadikan manusia makhluk yang terjebak dalam lingkaran ambisi dan kecemasan tak pernah puas, dan selalu merasa kurang.

Fenomena ini melahirkan banyak problem sosial: kesenjangan ekonomi yang makin lebar, praktik kecurangan demi “rezeki cepat”, hingga munculnya krisis spiritual di balik kemakmuran lahiriah. Padahal, Islam memandang rezeki bukan semata persoalan ekonomi, melainkan bagian dari ketetapan Ilahi yang sarat dengan nilai ibadah, amanah, dan keberkahan.

akibatnya banyak contoh mereka yang beruntung secara materi karena tidak adanya keseimbangan mengakibatkan terjerumus kedalam aneka perbuatan nista: perzinahan, narkoba dan poya poya, bahkan ada pula yang sampai mengakhiri hidupnya hanya karena merasakan kejenuhan atau terhimpit masalah terkait materi

Rezeki, Lebih dari Sekadar Harta

Dalam pandangan Islam, rezeki tidak terbatas pada uang atau harta benda. Segala bentuk kebaikan yang Allah berikan yakni kesehatan, ilmu, kedamaian, keluarga yang harmonis, dan bahkan memilki waktu untuk beribadah semuanya termasuk rezeki

.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hûd [11]: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa sumber rezeki hanyalah Allah. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha menjemputnya, bukan menciptakannya. Maka, kerja keras adalah bentuk ketaatan, bukan jaminan mutlak atas hasil.

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati sebelum ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah cara kalian dalam mencari rezeki.” (HR. Ibnu Majah)

Antara Ikhtiar dan Tawakal

Banyak orang salah paham, mengira bahwa kerja keras adalah satu -satunya sumber rezeki. Padahal, usaha hanyalah sarana; rezeki tetap datang sesuai kehendak Allah.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalâq [65]: 2–3)

Menjaga Kehalalan Rezeki

Islam sangat menekankan kehalalan dalam mencari rezeki. Hasil yang besar tapi didapat dengan cara haram bukanlah berkah, melainkan sumber murka Allah.

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap daging yang tumbuh dari hasil yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi)

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Antara Takdir dan Tanggung Jawab

Keyakinan bahwa rezeki sudah ditetapkan bukan alasan untuk bermalas-malasan. Islam justru memerintahkan umatnya untuk bekerja dan tidak bergantung pada orang lain.

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

“Sungguh, jika salah seorang di antara kalian mengambil talinya, lalu memikul seikat kayu bakar di punggungnya untuk dijual, itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rezeki Tak Pernah Salah Alamat

Hidup terasa lebih ringan bila kita memahami hakikat rezeki ini. Tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan, dan tidak semua yang kita miliki pasti membawa kebaikan. Kadang Allah menahan sebagian rezeki bukan karena Dia tidak mencintai hambanya, tetapi karena ingin menjaga kita dari keburukan yang tersembunyi.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6)

Maka, tetaplah berusaha dengan cara yang halal, berdoalah dengan hati yang yakin, dan bertawakallah kepada Allah. Karena rezeki tidak pernah salah alamat. Ia akan datang tepat pada waktunya, dengan cara yang paling indah yang Allah kehendaki.

🔄 Upgrading Diri Setiap Hari

Hidup ini bukan soal sempurna, tapi soal berusaha sedikit lebih baik dari kemarin. Jika Anda ingin punya catatan pribadi untuk mengevaluasi ibadah harian (sholat, tilawah, dzikir, sedekah, dll.), silakan gunakan alat sederhana ini.

Catatan tersimpan di browser Anda sendiri, tidak dilihat orang lain. Cocok untuk muhasabah pelan-pelan, tanpa merasa dihakimi siapa pun.

✍️ Buka Lembar Evaluasi Ibadah Pribadi Disarankan diisi di waktu tenang, misalnya menjelang tidur atau setelah sholat Isya.

Ikuti Kaffah Media di Telegram

Dapatkan artikel dakwah, kajian, dan berita Islami terbaru langsung di ponsel Anda.

Telegram Gabung ke Kanal Kami
atau kunjungi www.kaffahmedia.web.id

✦ Kaffah Media — Wawasan, Dakwah, Kajian, dan Berita Islami ✦

🤲 Dukung Kaffah Media Bantu jaga dakwah dan konten ideologis tetap berjalan.
📡 Ikuti Saluran Kaffah Media Semua artikel baru & catatan ideologis langsung ke perangkatmu. Tanpa tergantung algoritma.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak