Di era ketika mesin bukan hanya menghitung, tetapi juga “menjawab” dan “mengobrol”, umat Islam perlu lebih dari sekadar kagum. Kita harus bertanya: AI ini bekerja untuk siapa, dalam proyek peradaban siapa, dan di mana posisi kita sebagai Muslim?
Di usia peradaban kita hari ini, manusia sedang menyaksikan sebuah lompatan besar: mesin yang bukan hanya menghitung, tapi juga “menjawab”, “menulis”, bahkan “mengobrol”. Ia dikenal sebagai kecerdasan buatanartificial intelligence (AI). Banyak orang takjub, sebagian takut, sebagian lagi memakai tanpa sempat bertanya: kita ini sebenarnya sedang berdiri di titik apa?
Sebagai Muslim, kita tidak cukup hanya mengagumi kecanggihan teknologi. Kita perlu menimbangnya dalam dua timbangan sekaligus: timbangan syariah dan timbangan peradaban. Sebab AI bukan sekadar software; ia adalah produk dari cara pandang tertentu terhadap manusia, ilmu, dan kehidupan.
AI Itu Alat, Bukan Makhluk
Pertama-tama, kita perlu jernih: AI bukan makhluk hidup. Ia tidak punya ruh, tidak punya hati, tidak punya rasa takut kepada Allah. Ia “pintar” hanya karena diberi kemampuan mengolah data dalam jumlah luar biasa besar, mencari pola, lalu menghasilkan output yang tampak seperti bahasa manusia.
Dari sisi fisik, AI adalah alat. Sama seperti pisau, listrik, atau internet. Ia bisa dipakai untuk kebaikan, bisa juga dipakai untuk kezaliman. Karena itu, dari sudut pandang syariah, prinsip dasarnya sederhana: asal pemanfaatannya tidak haram, maka hukum asalnya mubah, bahkan bisa bernilai ibadah jika diarahkan untuk menolong dakwah, ilmu, dan kemaslahatan.
Namun, berhenti di sini saja tidak cukup.
Tidak Netral Secara Peradaban
Di balik layar, AI tidak lahir di ruang kosong. Ia lahir, dibiayai, dan dikendalikan oleh peradaban tertentu—hari ini, peradaban kapitalisme-sekular yang berpusat di Barat. Itu berarti:
- Standar “aman”, “berbahaya”, “benar”, “salah”, “boleh”, “tidak boleh” banyak ditentukan oleh framework pemikiran sekular.
- Kebijakan sensor, moderasi, dan prioritas pengembangan diarahkan oleh kepentingan ekonomi dan politik pemilik teknologi.
- Cara AI menjawab isu agama, politik, keluarga, seksualitas, dan seterusnya sering kali mencerminkan nilai dominan peradaban itu, bukan murni fakta.
Di sinilah banyak orang lengah. Mereka mengira AI itu netral, padahal isi “kepalanya” dibentuk oleh data dan standar dunia yang tidak otomatis tunduk pada wahyu.
Seorang Muslim tidak boleh buta terhadap kenyataan ini. Kita boleh memanfaatkan AI, tetapi tidak boleh membiarkan AI memformat cara kita memandang dunia.
Antara Manfaat dan Bahaya
Dari sisi manfaat, AI membuka peluang besar:
- Mempermudah penulisan, pengolahan data, penerjemahan, dan belajar.
- Membantu aktivis dakwah menyusun draft, merapikan bahasa, dan menyiapkan materi.
- Mendukung riset, analisis, dan pemetaan persoalan umat dengan lebih cepat.
Namun di sisi lain, bahaya mengintai:
- Bahaya akidah dan pemikiran: ketika jawaban AI tentang agama diterima mentah-mentah tanpa tabayyun kepada ulama dan sumber asli.
- Bahaya ketergantungan: ketika umat malas berpikir, malas membaca kitab, malas menghadiri kajian ilmu karena merasa cukup bertanya kepada mesin.
- Bahaya kontrol dan hegemoni: ketika arus opini global disetir oleh platform dan algoritma yang diatur oleh ideologi selain Islam.
Kita bisa saja sibuk menikmati kemudahannya, tapi lupa mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: “Untuk proyek peradaban siapa sebenarnya semua ini bekerja?”
Menyadari Di Mana Kita Berdiri
Di sinilah pentingnya pengakuan dan kesadaran realitas. Umat Islam hari ini hidup dalam:
- Sistem politik dan ekonomi sekular,
- Arus informasi yang dikendalikan korporasi global,
- Teknologi yang dikembangkan dengan visi non-Islami.
Mengakui fakta ini bukan kelemahan. Justru ini syarat awal untuk merdeka secara pemikiran. Sebab:
Selama kita tidak jujur tentang di mana kita berdiri, kita akan selalu digiring oleh realitas, bukan mengendalikannya.
Menyadari bahwa AI lahir dari rahim peradaban kapitalisme tidak otomatis membuat kita haram memakainya. Tapi itu membuat kita waspada: jangan sampai alat ini pelan-pelan mengubah cara kita menilai benar-salah, baik-buruk, melampaui batas hukum syara.
Sikap Seorang Muslim Terhadap AI
Beberapa prinsip yang perlu kita pegang:
1. AI adalah alat bantu, bukan rujukan akidah dan hukum.
Untuk hukum syariah, tafsir, fatwa, dan perkara-perkara penting, rujukan kita tetap: al-Qur’an, as-Sunnah, ijma sahabat, qiyas syar’i, dan penjelasan ulama yang tsiqah. AI hanya bisa membantu menyusun, bukan menentukan.
2. Manfaatkan, tapi jangan taklid.
AI boleh membantu menyusun draft, merapikan bahasa, memunculkan ide. Namun hasilnya harus selalu disaring:
- Apakah ada kalimat yang membawa cara pandang sekular?
- Apakah ada istilah yang mereduksi syariah menjadi sekadar etika?
- Apakah ada framing yang mengaburkan posisi Islam sebagai satu-satunya dîn yang haq?
3. Jaga ruh tadabbur dan tazkiyah.
Mesin bisa membantu meringkas, tapi tidak bisa menggantikan tadabbur Al-Qur’an, munajat di sepertiga malam, duduk di hadapan guru, menundukkan hati ketika membaca kitab. Kalau semua diwakilkan ke mesin, hati akan mengering, meski kepala penuh informasi.
4. Tetap berpijak pada proyek besar umat.
Peradaban hari ini menggunakan AI untuk menguatkan dominasi kapitalisme global. Umat Islam seharusnya memikirkan: bagaimana suatu saat teknologi seperti ini bisa dipakai dalam kerangka peradaban Islamdi bawah naungan syariah dan Khilafah untuk melayani manusia, bukan sekadar melayani pasar dan kekuasaan.
Beberapa Platform AI yang Banyak Digunakan Saat Ini
Agar pembahasan ini tidak berhenti pada tataran abstrak, kita perlu menyebutkan secara konkret: AI yang kita bicarakan itu hadir dalam bentuk platform nyata yang sudah digunakan jutaan manusia setiap hari termasuk kaum Muslimin.
Berikut beberapa contoh platform AI yang saat ini paling banyak digunakan, beserta karakter umumnya:
-
ChatGPT (OpenAI)
Digunakan untuk percakapan teks, penulisan artikel, ringkasan, penerjemahan, dan bantuan belajar. Platform ini mencerminkan pendekatan moderasi dan nilai global yang disusun berdasarkan standar korporasi teknologi Barat.Banyak dimanfaatkan untuk produktivitas, tetapi jawabannya perlu selalu ditimbang secara ideologis. -
Google Gemini (sebelumnya Bard)
Terintegrasi dengan ekosistem Google dan mesin pencari. Kuat dalam pengolahan informasi umum, tetapi sangat terikat pada kebijakan sensor dan narasi resmi arus utama.Sering tampil “netral”, padahal sarat framing dominan peradaban sekular. -
Microsoft Copilot
AI yang tertanam dalam produk Microsoft seperti Word dan Excel. Fokus pada efisiensi kerja dan produktivitas korporasi.Membantu teknis, namun tidak dirancang untuk mempertimbangkan nilai syariah. -
Claude (Anthropic)
Dipromosikan sebagai AI yang “aman” dan “etis”. Namun definisi etika yang dipakai tetap berangkat dari filsafat humanisme modern, bukan wahyu.Etika tanpa akidah tetaplah etika versi manusia. -
AI Gambar (seperti Midjourney, DALL·E, Stable Diffusion)
Digunakan untuk membuat ilustrasi, desain visual, dan konten kreatif.Bermanfaat untuk media dakwah, tetapi rawan menabrak batas syar’i jika tidak diawasi.
Penting dicatat: perbedaan platform tidak mengubah hakikatnya. Semuanya lahir dari ekosistem teknologi global yang sama, dengan visi hidup yang tidak otomatis selaras dengan Islam.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “pakai atau tidak pakai AI”, melainkan siapa yang mengendalikan, nilai apa yang ditanamkan, dan sejauh mana kita membiarkan alat ini membentuk cara berpikir kita.
AI Open Source vs AI Korporasi
Dalam diskursus AI, ada satu pembeda penting yang sering luput dari perhatian umat: siapa yang mengendalikan teknologinya. Secara umum, AI hari ini terbagi ke dalam dua model besar: AI korporasi tertutup dan AI open source. Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh soal kuasa, kontrol, dan arah peradaban.
1. AI Korporasi: Terkonsentrasi dan Dikendalikan Modal
AI korporasi adalah AI yang dikembangkan, dimiliki, dan dikontrol oleh perusahaan besar global. Contohnya adalah ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google), Copilot (Microsoft), dan Claude (Anthropic). Akses pengguna bersifat terbatas, sementara inti sistem, data latih, dan kebijakan moderasi berada sepenuhnya di tangan pemilik modal.
- Kelebihan: stabil, mudah digunakan, performa tinggi, dan terintegrasi dengan ekosistem digital modern.
- Keterbatasan: pengguna tidak punya kendali atas cara AI “berpikir”, apa yang disensor, dan nilai apa yang dijadikan standar.
- Risiko peradaban: konsentrasi kekuasaan pengetahuan di tangan segelintir korporasi global yang tidak tunduk pada syariah.
Dalam kerangka kapitalisme, AI jenis ini bukan sekadar alat bantu, melainkan aset strategis untuk mengendalikan arus informasi, opini publik, dan perilaku manusia.
2. AI Open Source: Terbuka, tetapi Tidak Otomatis Islami
AI open source adalah model AI yang kode, arsitektur, atau bobot modelnya dibuka untuk publik. Siapa pun individu, komunitas, bahkan negara bisa mengunduh, memodifikasi, dan menjalankannya secara mandiri.
Secara teori, model ini menawarkan kemandirian lebih besar dari dominasi korporasi. Namun, keterbukaan teknis tidak otomatis berarti kebebasan ideologis.
- Kelebihan: lebih transparan, bisa dikustomisasi, dan tidak sepenuhnya tunduk pada kebijakan sensor satu korporasi.
- Keterbatasan: tetap dilatih dari data global yang sarat nilai sekular, liberal, dan materialistik.
- Catatan penting: tanpa kerangka akidah Islam, AI open source tetap hanya meniru cara pandang manusia modern.
Dengan kata lain, open source hanya memindahkan kendali teknis, bukan menyucikan visi hidupnya.
3. Pelajaran bagi Umat Islam
Perbandingan ini memberi pelajaran penting: masalah utama AI bukan semata tertutup atau terbuka, melainkan di bawah peradaban apa ia dikembangkan.
- Selama AI lahir dari sistem sekular, ia akan membawa jejak sekular, meski dibungkus narasi etika dan keterbukaan.
- Selama umat Islam hanya menjadi pengguna, maka arah teknologi akan selalu ditentukan oleh pihak lain.
Kemandirian teknologi tanpa kemandirian akidah tidak akan melahirkan kemerdekaan peradaban.
Karena itu, visi jangka panjang umat bukan sekadar memiliki “AI versi Muslim” secara kosmetik, melainkan membangun kerangka ilmu, data, dan tujuan teknologi yang tunduk kepada wahyu dan melayani risalah Islam.
Selama proyek peradaban Islam belum tegak, sikap paling realistis adalah: memanfaatkan AI dengan sadar, kritis, dan terbatas, tanpa menyerahkan kompas kebenaran kepada algoritma.
Kaffah Media dan AI: Memanfaatkan, Bukan Menyerah
Di tengah realitas ini, Kaffah Media memilih satu sikap: jujur memanfaatkan AI sebagai alat teknis, sambil tetap menjaga pijakan ideologis pada akidah Islam.
- AI digunakan untuk membantu merapikan struktur tulisan, mengolah bahasa agar lebih enak dibaca, dan memicu brainstorming ide.
- Namun, penentuan tema, penajaman sudut pandang, penilaian benar-salah, serta tanggung jawab syar’i atas isi tetap berada di tangan manusia beriman yang mengelola Kaffah Media.
Ini bagian dari adab keilmuan: mengakui peran alat, tetapi tidak menuhankannya. Menggunakan teknologi modern, tetapi tetap sadar bahwa kompas kita bukan algoritma, melainkan wahyu.
Ini baru pengantar. Pada tulisan-tulisan berikutnya, insya Allah kita akan membahas lebih khusus:
- Bolehkah dakwah dibantu AI, apa batas adabnya?
- Apakah AI bisa menggantikan ulama?
- Bagaimana kaitan AI, kapitalisme digital, dan proyek peradaban?
- Seperti apa gambaran pemanfaatan AI jika kelak peradaban Islam bangkit kembali?
Sebab di ujung semua ini, pertanyaannya tetap sama:
“Di pihak mana kita berdiri, dan peradaban siapa yang sedang kita bantu tegakkan?”