Etika Bermedsos: Menjadi Muslim Cerdas di Ruang Digital

Di zaman ketika layar kecil di tangan kita bisa menembus ruang dan waktu, media sosial telah berubah menjadi tempat banyak orang mengekspresikan diri, berpendapat, dan membentuk persepsi. Ia bukan lagi sekadar hiburan, tetapi ruang besar tempat karakter, akhlak, dan pola pikir seseorang tampak dengan sangat jelas. Karena itu, kehadiran seorang Muslim di dunia digital seharusnya tidak sekadar mengikuti arus, tetapi membawa cahaya, ketenangan, dan kecerdasan.

Dalam ajaran Islam, adab harus mendahului ilmu. Sebelum seseorang berbicara, ia diajarkan untuk menjaga lisannya. Kini, lisan itu berpindah ke ujung jari. Apa yang kita tulis, bagikan, dan komentari tidak hilang begitu saja. Jejaknya bisa melebar, mempengaruhi banyak orang, bahkan mungkin menjadi amal… atau sebaliknya justru jadi lahan dosa. Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan kalimat yang sangat pendek namun dalam:

قُلْ خَيْرًا أَوِ اصْمُتْ
“Ucapkan yang baik atau diam.”

Kalimat ini, jika dibawa ke dunia media sosial, bermakna bahwa tidak semua yang terlintas di pikiran harus diunggah. Tidak semua emosi harus ditampakan. Tidak semua perbedaan harus diperangi. Terkadang menahan jari lebih bernilai daripada merespon sesuatu yang memperburuk keadaan.

Masalah lain yang sangat nyata di dunia digital adalah budaya membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya. Berita bohong, potongan video, asumsi yang dibungkus opini semua bisa menyebar dalam hitungan detik. Padahal Allah telah menegaskan prinsip dasar yang sangat penting:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seseorang membawa berita, maka tabayyunlah (periksalah) kebenarannya.”
(Al-Hujurāt: 6)

Ayat ini bukan hanya nasihat, melainkan standar etika informasi bagi umat Islam. Ia mengajarkan agar kita tidak mudah percaya, tidak mudah menyebarkan, dan tidak ikut menjadi perpanjangan tangan sebuah kabar yang belum jelas sumbernya Tanpa tabayyun, media sosial hanya menjadi ruang besar untuk fitnah, kesalahpahaman, dan kerusakan.

Selain itu, media sosial sering memancing emosi. Satu komentar sinis bisa membuat seseorang berubah menjadi versi dirinya yang paling buruk. Padahal seorang Muslim dididik untuk menahan diri, bukan terbawa suasana. Allah menggambarkan orang-orang bertakwa sebagai mereka yang mampu menahan amarah:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Mereka yang mampu menahan amarah dan memaafkan manusia.”
(Āli ‘Imrān: 134)

Keteguhan hati untuk tidak buru-buru membalas, tidak tergoda debat kusir, dan tetap memilih kata yang baik merupakan tanda kecerdasan emosional dan spiritual. Karena pada akhirnya, di balik layar itu tetap ada manusia yang sedang bertumbuh, berjuang, dan mencari kebenaran.

Media sosial juga sering menjadi tempat memamerkan hal-hal yang seharusnya disimpan. Ada dorongan halus untuk terlihat lebih baik dari kenyataannya. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa nilai sebuah amal dilihat dari niatnya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat.”

Seorang Muslim sepatutnya bertanya pada diri sendiri setiap kali hendak memposting sesuatu: Apakah ini untuk kebaikan, atau sekadar ingin dipuji? Apakah ini menunjukkan syukur, atau menumbuhkan riya’?

Di sisi lain, jika digunakan dengan benar, media sosial adalah ladang amal yang sangat luas. Satu kalimat yang menenangkan, satu paragraf yang menginspirasi, satu nasihat yang lembut semuanya bisa menjadi kebaikan yang mengalir kepada banyak orang. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti orang yang melakukannya.”

Membagikan ilmu, meredam konflik, menyebarkan kebenaran, atau sekadar menghadirkan akhlak yang indah adalah bentuk hadirnya seorang Muslim sebagai pembawa cahaya.

Pada akhirnya, yang perlu kita sadari adalah bahwa media sosial tidak netral. Ia digerakkan oleh algoritma yang bisa membuat manusia lalai, kecanduan, atau terseret arus konten yang tidak bermanfaat. Karena itu, kita perlu memilih apa yang kita konsumsi sebagaimana kita memilih makanan untuk tubuh. Para ulama memaknai firman Allah:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
“Hendaklah manusia memperhatikan apa yang ia konsumsi.”
(Abasa: 24)

Sebagian ahli tafsir memperluas maknanya: bukan hanya makanan fisik, tetapi apa pun yang “dikonsumsi” oleh akal dan hati. Termasuk konten digital.

Etika bermedsos dalam Islam bukan aturan kaku, tetapi panduan agar kita tidak kehilangan jati diri. Agar kita tetap menjadi manusia bukan sekadar akun. Agar kita membawa nilai, bukan hanya suara. Agar kita menjadi cahaya yang menerangi, bukan bara yang membakar.

Dan ketika seorang Muslim hadir di dunia digital dengan kesadaran, ketenangan, dan kecerdasan, ruang maya pun bisa berubah menjadi ladang kebaikan yang luas, tempat dakwah mengalir, dan tempat akhlak bersinar sebagaimana mestinya.

🔄 Upgrading Diri Setiap Hari

Hidup ini bukan soal sempurna, tapi soal berusaha sedikit lebih baik dari kemarin. Jika Anda ingin punya catatan pribadi untuk mengevaluasi ibadah harian (sholat, tilawah, dzikir, sedekah, dll.), silakan gunakan alat sederhana ini.

Catatan tersimpan di browser Anda sendiri, tidak dilihat orang lain. Cocok untuk muhasabah pelan-pelan, tanpa merasa dihakimi siapa pun.

✍️ Buka Lembar Evaluasi Ibadah Pribadi Disarankan diisi di waktu tenang, misalnya menjelang tidur atau setelah sholat Isya.

Ikuti Kaffah Media di Telegram

Dapatkan artikel dakwah, kajian, dan berita Islami terbaru langsung di ponsel Anda.

Telegram Gabung ke Kanal Kami
atau kunjungi www.kaffahmedia.web.id

✦ Kaffah Media — Wawasan, Dakwah, Kajian, dan Berita Islami ✦

🤲 Dukung Kaffah Media Bantu jaga dakwah dan konten ideologis tetap berjalan.
📡 Ikuti Saluran Kaffah Media Semua artikel baru & catatan ideologis langsung ke perangkatmu. Tanpa tergantung algoritma.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak