Ilmu & Tsaqofah bedanya apa sih?

Kalau kita nggak bisa bedain antara ilmu dan tsaqofah, wajar banget kalau banyak orang Muslim jadi mengira fisika, kimia, ekonomi, politik, dan seterusnya itu semuanya “universal” alias sama aja buat semua orang. Soalnya, cara pandang kayak gitu juga dominan di Barat sejak munculnya aliran Positivisme yang dibawa Auguste Comte (1798–1857). Dan karena sistem pendidikan di dunia Islam banyak mengadopsi pola pikir sekuler, akhirnya pola pikir yang sama ikut nyangkut ke umat Islam.

Positivisme tuh percaya bahwa yang bisa diteliti dan dianggap valid hanyalah hal-hal yang bisa dilihat, diraba, diukur pokoknya yang empiris. Aliran ini sebenarnya gaya mikir dari ilmu alam, tapi dipaksakan ke ilmu sosial. Akhirnya muncul anggapan bahwa kesimpulan ilmiah itu selalu universal: cocok buat siapa pun, kapan pun, di mana pun.

Efek domino-nya: banyak Muslim akhirnya nganggep ilmu sosial kayak demokrasi, liberalisme, kapitalisme itu universal kayak fisika dan kimia. Padahal... nggak.

Nah, hal inilah yang bikin Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani resah. Beliau lalu merinci dengan jelas: ada ilmu, ada tsaqofah. Keduanya beda cara lahirnya, beda metode berpikirnya, beda “jiwanya”. Menurut beliau, ilmu sosial itu bukan pemikiran universal, tapi pemikiran khas yang tumbuh dari cara pandang hidup Barat.

Ilmu & Tsaqofah: Bedanya Apa Sih?

Secara bahasa:

  • Ilmu itu “tahu sesuatu karena memahami hakikatnya”.
  • Tsaqofah itu “paham dengan cepat, mahir, cerdas”.

Secara istilah:

  • Ilmu → pengetahuan dari observasi, percobaan, dan kesimpulan.
  • Tsaqofah → pengetahuan dari talaqqi (belajar langsung), berita, dan penggalian makna.

Ilmu itu dianggap bebas nilai. Sedangkan tsaqofah itu mengandung nilai. Tapi ingat: ilmu bebas nilai hanya secara konsep. Dalam praktik, ilmu bisa dipakai untuk baik atau buruk tergantung siapa yang pegang. Contohnya internet: bisa buat dakwah, bisa buat maksiat. Tergantung yang pegang.

Apa Itu Tsaqafah Islam?

Tsaqofah Islam itu segala pengetahuan yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar pembahasannya. Ada tiga jenis:

  • Pengetahuan yang mengandung akidah, misal: tauhid.
  • Pengetahuan yang berdiri di atas akidah, seperti fiqih, tafsir, hadits.
  • Pengetahuan pendukung ijtihad, seperti ilmu bahasa Arab, ushul fiqih, musthalah hadits.

Jadi semua tsaqofah Islam itu baliknya ya ke Al-Qur’an dan Sunnah. Dari keduanya lahir seluruh cabangnya.

Bagaimana Cara Mempelajari Tsaqofah Islam?

Metodenya ada tiga:

  • Belajar mendalam sampai benar-benar paham Tsaqofah Islam itu fikriyah — perlu mikir, merenung, nyambungin fakta dengan dalil. Makanya harus dipelajari lewat talaqqi fikri (belajar langsung dan berpikir).

    Contohnya:
    akidah wajib dipahami lewat akal, bukan cuma ikut-ikutan orang tua. Begitu juga hukum syariah: harus melalui pemahaman, bukan hapalan buta. Bahkan orang awam sekalipun tetap harus paham masalahnya, meski tidak harus tahu dalil detailnya.

  • Belajar dengan keyakinan, bukan ragu-ragu Kalau yang dipelajari itu akidah, maka harus yakin seratus persen. Kalau soal hukum atau adab, cukup dengan keyakinan kuat berdasarkan dalil yang tepat.

    Intinya: jangan ambil tsaqofah Islam dari dasar pemikiran selain Islam. Karena tsaqofah Islam itu sifatnya menggerakkan: membakar keburukan, menyalakan kebaikan.

  • Belajar untuk dipakai, bukan hanya teori Tsaqofah dipelajari untuk menjawab realitas hidup. Bukan sekadar wawasan estetik atau untuk gaya-gayaan.

    Makanya harus realistis — ada faktanya. Belajar supaya bisa diterapkan ketika masalahnya muncul di kehidupan nyata.

    Kalau metode ini jalan, hasilnya:

    • pikirannya tajam
    • perasaannya peka
    • dan mampu menyelesaikan problem hidup
  • Apakah Seorang Muslim Harus Belajar Tsaqofah Islam Saja?

    Tentu nggak.

    Belajar tsaqofah lain itu boleh, tapi syaratnya: pondasi tsaqofah Islam harus sudah kokoh dulu. Biar nggak goyang ke mana-mana.

    Sementara ilmu pengetahuan modern (ilmu sains, teknologi, dsb.) boleh diambil kapan saja, karena sifatnya universal dan tidak membentuk kepribadian seseorang. Tapi tetap perlu diarahkan supaya penggunaannya tidak bertentangan dengan akidah.

    ✨ Ringkasan & Pertanyaan yang Sering Muncul: Ilmu vs Tsaqofah

    Bagian ini merangkum inti tulisan tentang perbedaan ilmu dan tsaqofah dalam Islam, serta bagaimana seharusnya seorang Muslim memposisikan keduanya. Cocok untuk pembaca yang ingin langsung menangkap garis besar tanpa membaca seluruh artikel.

    🔎 Highlight Insight:
    • Banyak Muslim mengira semua ilmu itu universal karena terpengaruh pola pikir positivisme dan pendidikan sekuler.
    • Ilmu (sains) lahir dari observasi dan percobaan; tsaqofah lahir dari talaqqi, berita yang terpercaya, dan penggalian makna.
    • Ilmu bersifat bebas nilai secara konsep, sedangkan tsaqofah selalu membawa nilai dan cara pandang hidup tertentu.
    • Tsaqofah Islam menjadikan akidah sebagai fondasi: dari akidah lahir fiqih, tafsir, hadits, ushul fiqih, hingga ilmu-ilmu pendukung ijtihad.
    • Mempelajari tsaqofah Islam harus dengan berpikir mendalam, penuh keyakinan, dan siap diamalkan dalam realitas hidup.
    • Seorang Muslim boleh mempelajari tsaqofah lain, tapi pondasi tsaqofah Islam harus kokoh agar kepribadian tidak goyah.
    • Ilmu sains dan teknologi boleh diambil kapan saja, namun penggunaannya tetap wajib diarahkan agar tidak bertentangan dengan akidah.
    Apa inti utama tulisan tentang ilmu dan tsaqofah ini?

    Intinya adalah bahwa ilmu dan tsaqofah itu berbeda. Ilmu bersifat teknis dan universal, lahir dari riset empiris, sedangkan tsaqofah membawa nilai dan cara pandang hidup tertentu. Tsaqofah Islam harus berdiri di atas akidah Islam, dan dari situlah kepribadian Muslim dibentuk.

    Kenapa banyak Muslim menganggap semua ilmu itu universal?

    Karena cara pikir positivisme yang menuhankan hal-hal empiris merembes ke ilmu sosial, lalu diadopsi oleh sistem pendidikan sekuler. Akhirnya banyak orang menganggap pemikiran Barat seperti demokrasi, liberalisme, dan kapitalisme itu netral dan universal, padahal ia adalah tsaqofah yang lahir dari akidah dan cara pandang Barat.

    Apa yang dimaksud dengan tsaqofah Islam?

    Tsaqofah Islam adalah seluruh pengetahuan yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar. Termasuk di dalamnya pengetahuan yang mengandung akidah seperti tauhid, pengetahuan yang dibangun di atas akidah seperti fiqih, tafsir, dan hadits, serta ilmu-ilmu pendukung ijtihad seperti bahasa Arab, ushul fiqih, dan musthalah hadits.

    Bagaimana seharusnya seorang Muslim mempelajari tsaqofah Islam?

    Dengan tiga cara: (1) belajar secara mendalam dan berpikir, bukan sekadar hafalan; (2) mempelajarinya dengan keyakinan, terutama pada perkara akidah dan hukum; dan (3) menjadikannya panduan untuk menjawab realitas hidup, bukan hanya teori indah di kepala.

    Apakah seorang Muslim hanya boleh belajar tsaqofah Islam saja?

    Tidak. Seorang Muslim boleh mempelajari tsaqofah lain, tetapi pondasi tsaqofah Islam harus kokoh lebih dahulu agar tidak mudah goyah. Adapun ilmu pengetahuan modern seperti sains dan teknologi boleh diambil kapan saja karena sifatnya universal, namun penggunaannya tetap wajib diarahkan agar selaras dengan akidah Islam.

    🔄 Upgrading Diri Setiap Hari

    Hidup ini bukan soal sempurna, tapi soal berusaha sedikit lebih baik dari kemarin. Jika Anda ingin punya catatan pribadi untuk mengevaluasi ibadah harian (sholat, tilawah, dzikir, sedekah, dll.), silakan gunakan alat sederhana ini.

    Catatan tersimpan di browser Anda sendiri, tidak dilihat orang lain. Cocok untuk muhasabah pelan-pelan, tanpa merasa dihakimi siapa pun.

    ✍️ Buka Lembar Evaluasi Ibadah Pribadi Disarankan diisi di waktu tenang, misalnya menjelang tidur atau setelah sholat Isya.

    Ikuti Kaffah Media di Telegram

    Dapatkan artikel dakwah, kajian, dan berita Islami terbaru langsung di ponsel Anda.

    Telegram Gabung ke Kanal Kami
    atau kunjungi www.kaffahmedia.web.id

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak