Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang sepenuhnya selaras dengan fitrah manusia. Ia tidak datang untuk mengekang naluri, mematikan akal, atau menghapus kebebasan berpikir. Sebaliknya, Islam hadir sebagai penuntun agar naluri, akal, dan kehendak manusia berjalan di poros yang lurus.
Pada saat manusia mencapai puncak pemikiran yang jernih dan komprehensif ketika ia jujur menimbang makna hidup, keadilan, keseimbangan alam, dan tujuan eksistensi maka pada titik itu, ia akan bertemu dengan Islam. Bukan karena doktrin dipaksakan, tetapi karena kebenaran selalu selaras dengan akal sehat dan hati yang bersih.
Islam Berdiri di Atas Fitrah Manusia
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”
(QS. Ar-Rūm: 30)
Fitrah adalah kecenderungan asli manusia untuk mengenal Tuhannya, mencintai keadilan, membenci kezaliman, dan mencari makna hidup. Islam tidak menciptakan nilai-nilai asing, melainkan menata dan mengarahkan potensi fitriah agar tidak menyimpang.
Islam tidak bertentangan dengan akal sehat. Justru Islam membingkai akal agar tidak terseret hawa nafsu, kesombongan intelektual, atau kepentingan sesaat yang merusak.
Menjauh dari Islam = Menjauh dari Fitrah
Kekacauan hidup manusia modern bukanlah fenomena tanpa sebab. Krisis identitas, kehampaan spiritual, rusaknya keluarga, hingga kerusakan alam adalah konsekuensi dari penyimpangan manusia dari fitrahnya sendiri.
- Mengagungkan kebebasan, tetapi terjerat kecanduan
- Mengidolakan rasionalitas, tetapi kehilangan makna hidup
- Membangun peradaban materi, namun menghancurkan kemanusiaan
Islam tidak menuduh, tetapi menjelaskan: ketika manusia menolak wahyu, ia akan tersesat oleh sistem nilai ciptaannya sendiri.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Ṭāhā: 124)
Kehidupan yang sempit bukan hanya soal ekonomi, tetapi kegelisahan batin, kekacauan orientasi hidup, dan hilangnya ketenangan, meski dikelilingi kemajuan teknologi dan kemewahan materi.
Islam sebagai Jalan Keseimbangan Peradaban
Islam menempatkan manusia sebagai khalifah, bukan penguasa absolut. Manusia diberi amanah untuk menjaga keseimbangan: antara jasad dan ruh, individu dan masyarakat, manusia dan alam.
Dalam Islam:
- Kebebasan dibingkai tanggung jawab
- Hak diseimbangkan kewajiban
- Kekuatan dikendalikan keadilan
- Ilmu dituntun wahyu
Maka ketika manusia mencari sistem hidup yang adil, berkelanjutan, dan manusiawi, ia akan menemukan bahwa Islam bukan penghambat kemajuan, tetapi fondasi peradaban yang lurus.
Penutup: Kembali kepada Islam adalah Pulang ke Rumah Asal
Islam tidak membutuhkan pembenaran dari zaman. Justru zamanlah yang selalu kembali membuktikan kebenaran Islam. Setiap kali manusia jujur pada fitrahnya, ia akan mengakui bahwa petunjuk Ilahi bukan beban, melainkan rahmat.
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dakwah Islam sejatinya bukan memaksakan sesuatu yang asing, tetapi mengajak manusia pulang, kembali kepada fitrah, keseimbangan, dan jalan hidup yang diridhai Allah.
Islam bukan sekadar pilihan ideologis. Ia adalah rumah asal manusia.