Epstein Files dan Runtuhnya Nurani Peradaban Modern

Ada peristiwa-peristiwa yang tidak sekadar layak diberitakan, tetapi seharusnya mengguncang kesadaran kolektif umat manusia. Terbukanya kembali Epstein Files adalah salah satunya.

Ini bukan cerita tentang satu orang kaya dengan kelainan moral. Ini adalah kisah tentang peradaban yang kehilangan nurani, sistem yang memisahkan kekuasaan dari akhlak, dan hukum yang berdiri bukan untuk keadilan, melainkan untuk melindungi kepentingan.


Jeffrey Epstein telah mati. Namun yang sesungguhnya hidup dan terus beroperasi adalah sistem yang memungkinkan kejahatan itu terjadi, berlangsung, dan dilindungi.

Dalam peradaban yang sehat, kejahatan semacam ini akan memicu guncangan besar, pengadilan terbuka, dan pertanggungjawaban menyeluruh. Namun dalam realitas hari ini, yang terjadi justru sebaliknya: keheningan, pengaburan, dan pengalihan isu.

Di sinilah kita harus berhenti sejenak dan bertanya bukan tentang Epstein, tetapi tentang dunia yang melahirkannya.

Renungan Kaffah:
Ketika sebuah kejahatan sistemik dianggap sebagai kasus individual, itu tanda bahwa peradaban telah terbiasa hidup bersama kebusukan.

Peradaban modern dibangun di atas satu asumsi besar: manusia mampu menentukan sendiri standar baik dan buruknya. Dari sinilah lahir sekularisme pemisahan agama dari kehidupan publik yang kemudian melahirkan sistem hukum, politik, dan ekonomi tanpa rujukan wahyu.

Dalam sistem semacam ini, moral menjadi relatif. Yang salah bisa dinegosiasikan, yang benar bisa ditunda, dan yang jahat bisa dilindungi selama ia berada di lingkaran kuasa.

Kasus Epstein hanyalah satu potongan kecil dari mozaik besar kerusakan ini.


Al-Qur’an Membaca Realitas Jauh Sebelum Kita

Islam tidak pernah memandang kerusakan sosial sebagai kebetulan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika manusia menjauh dari petunjuk Allah, maka kerusakan adalah keniscayaan.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini seolah membaca realitas dunia hari ini: kerusakan moral, hukum yang rapuh, dan elite yang kebal bukanlah anomali melainkan akibat logis dari peradaban tanpa wahyu.


Islam datang dengan prinsip yang sangat sederhana namun revolusioner: tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum Allah. Jabatan, kekayaan, dan popularitas tidak pernah menjadi alasan pembenar untuk kejahatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri.” (QS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan bukanlah produk sistem politik, tetapi perintah langsung dari Sang Pencipta.


Epstein Files sebagai Tanda, Bukan Akhir Cerita

Kesalahan terbesar kita adalah mengira bahwa terbongkarnya satu skandal berarti sistem sedang bekerja. Padahal bisa jadi, itu hanyalah cara sistem menyelamatkan dirinya sendiri dengan mengorbankan satu nama.

Selama fondasi peradaban masih dibangun di atas nilai sekuler dan kapitalistik, maka Epstein-Epstein baru akan terus bermunculan—mungkin dengan wajah lebih rapi dan perlindungan lebih canggih.


Islam tidak datang hanya untuk mengatur ibadah personal, tetapi untuk membangun peradaban yang adil, bermoral, dan manusiawi. Sebuah peradaban yang menundukkan kekuasaan pada hukum Allah, bukan sebaliknya.

Epstein Files seharusnya menjadi alarm keras bahwa dunia membutuhkan lebih dari sekadar reformasi hukum ia membutuhkan perubahan cara pandang hidup.


Penutup: Ketika Keadilan Menjadi Pilar Peradaban

Islam tidak memandang keadilan sebagai slogan politik atau tuntutan musiman, melainkan sebagai fondasi tegaknya kehidupan manusia. Sebuah masyarakat tidak runtuh karena kurangnya teknologi atau kekayaan, tetapi karena hilangnya keadilan dan amanah.

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

Artinya:
“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, apabila orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Namun apabila orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini bukan sekadar kritik moral, tetapi peta peradaban. Ia menjelaskan hukum sebab-akibat sejarah: ketika hukum tunduk pada status sosial dan kekuasaan, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Skandal seperti Epstein Files seharusnya tidak hanya memancing amarah, tetapi menyadarkan bahwa tanpa hukum yang berdiri di atas wahyu, keadilan akan selalu kalah oleh kepentingan.

Kaffah Media Menegaskan:
Peradaban tidak diselamatkan oleh elite, tetapi oleh tegaknya keadilan. Dan keadilan sejati hanya lahir ketika hukum tunduk kepada Allah, bukan kepada manusia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak