Setiap hari kita hidup dikelilingi energi: lampu yang menyala di kamar, ponsel yang terisi, kendaraan yang melaju di jalan, air yang mengalir dari pompa, hingga suara kipas yang berputar pelan di sudut rumah. Hampir semua aktivitas modern kita bergantung pada energi, tetapi jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya: sebenarnya, dari mana semua energi itu berasal, seberapa banyak yang tersisa, dan apa dampaknya terhadap bumi yang kita tinggali? Pertanyaan yang tampak sederhana ini, pada kenyataannya, sedang menjadi kegelisahan banyak negara, para ilmuwan, dan para pengambil kebijakan di seluruh dunia.
Sejak Revolusi Industri hingga hari ini, peradaban modern bertumpu pada tiga sumber utama: minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Tiga jenis energi fosil ini menjadi tulang punggung pembangkit listrik, bahan bakar kendaraan, serta berbagai proses industri. Di berbagai laporan energi global, sekitar delapan puluh persen kebutuhan energi dunia masih dipenuhi oleh energi fosil, sementara sisanya berasal dari energi terbarukan dan sumber lain seperti nuklir. Dengan kata lain, meskipun kita sering mendengar istilah “energi hijau” atau “energi terbarukan”, kenyataannya kehidupan modern masih sangat bergantung pada sumber-sumber yang terbentuk dari sisa makhluk hidup jutaan tahun yang lalu.
Di sinilah letak masalahnya. Energi fosil terbentuk dalam rentang waktu geologis yang sangat panjang, sementara manusia menghabiskannya dalam hitungan ratusan tahun dengan kecepatan yang terus meningkat. Kita seperti memakai tabungan warisan masa lalu yang pengisiannya memakan waktu jutaan tahun, sementara pada saat yang sama tidak ada proses alam yang bisa mengembalikannya dalam usia peradaban manusia. Ladang-ladang minyak tua satu per satu menunjukkan penurunan produksi, cadangan gas yang mudah diambil semakin berkurang, dan batu bara yang berkualitas tinggi makin sulit didapat. Secara teknis, para ahli energi melihat bahwa untuk menjaga pasokan, perusahaan harus menggali lebih dalam, pergi ke laut yang lebih dalam, atau ke wilayah yang lebih ekstrim, dengan teknologi yang lebih rumit dan biaya yang lebih besar. Artinya, sekalipun angka cadangan di atas kertas masih tampak besar, secara praktis energi fosil ini semakin mahal, semakin sulit, dan semakin penuh risiko.
Islam sejak awal mengingatkan manusia agar tidak ceroboh dalam menggunakan nikmat Allah di bumi. Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴾**
“Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Biasanya ayat ini dikaitkan dengan makanan atau gaya hidup, tetapi maknanya jauh lebih luas. Berlebih-lebihan dalam konteks energi tidak selalu berarti menghabiskan minyak sampai tetes terakhir. Kadang bentuknya adalah menciptakan pola hidup dan sistem produksi yang boros, tidak efisien, dan tidak peduli dengan akibat jangka panjang. Menyalakan listrik tanpa perlu, memakai kendaraan untuk jarak yang sangat dekat, atau membangun kota-kota yang didesain tanpa mempertimbangkan efisiensi energi, semua itu bagian dari pola hidup yang condong kepada *israf*.
Masalah energi juga tidak berhenti pada soal “habis atau tidaknya” cadangan. Cara kita membakar energi fosil meninggalkan jejak yang berat di atmosfer dan lingkungan. Setiap liter bensin yang dibakar, setiap ton batu bara yang digunakan, melepaskan karbon dioksida dan berbagai polutan ke udara. Sejak era pra-industri, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer terus meningkat, dan kenaikan ini berkaitan erat dengan naiknya suhu rata-rata bumi. Pemanasan global ini tidak hanya tercatat dalam grafik ilmiah, tapi mulai terasa dalam kehidupan nyata: gelombang panas yang lebih sering, banjir besar yang kian sering berulang, musim hujan dan kemarau yang mulai bergeser, dan suhu udara di kota-kota besar yang makin gerah. Di banyak wilayah, petani mulai kebingungan karena pola musim yang tidak lagi sejelas dulu, sementara masyarakat di pesisir menghadapi ancaman naiknya permukaan air laut.
Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang dampak perbuatan manusia terhadap keseimbangan alam:
**﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ ﴾**
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan lingkungan yang kita lihat hari ini—polusi udara, sungai yang tercemar, perubahan iklim—bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba tanpa sebab. Ia adalah akumulasi dari cara manusia memanfaatkan karunia Allah tanpa memperhatikan batas dan keseimbangannya. Energi yang semestinya menjadi nikmat dan amanah, berubah menjadi sumber kerusakan karena digunakan dengan mentalitas rakus dan ceroboh.
Sebagai jalan keluar, dunia mulai menoleh kepada sumber energi yang dapat diperbarui: sinar matahari, angin, aliran air, panas bumi, dan biomassa. Secara prinsip, energi-energi ini bersumber dari proses alam yang terus berjalan dan dapat “diisi ulang” dalam skala waktu manusia. Matahari terbit setiap hari, angin bertiup, air mengalir dari pegunungan ke laut, dan panas bumi terus terpancar dari perut bumi. Indonesia sendiri termasuk negara yang sangat kaya potensi energi terbarukan, terutama panas bumi karena letaknya di cincin api Pasifik, serta sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun sebagai negara tropis. Di atas kertas, potensi ini sangat menjanjikan.
Namun, potensi besar tidak serta-merta berubah menjadi pemanfaatan nyata. Untuk memasang panel surya dalam skala luas, dibutuhkan investasi awal yang tidak kecil. Pembangkit listrik tenaga panas bumi memerlukan teknologi tinggi dan proses eksplorasi yang panjang. Jaringan listrik yang sudah dibangun dengan orientasi ke pembangkit fosil harus disesuaikan agar bisa menerima sumber-sumber energi yang sifatnya naik-turun seperti matahari dan angin. Selain itu, kebijakan pemerintah, kepastian regulasi, dan minat investasi juga sangat menentukan apakah energi terbarukan benar-benar bisa tumbuh, atau hanya berhenti sebagai jargon di atas kertas. Di sini, masalah energi tampak bukan sekadar persoalan teknik, tapi juga ekonomi, politik, dan tata kelola.
Karena itu, wajar jika transisi dari energi fosil ke energi terbarukan tidak bisa berlangsung seketika. Sistem energi global ibarat jaringan syaraf raksasa yang dibangun selama puluhan hingga ratusan tahun: pembangkit, kilang minyak, jaringan pipa, pelabuhan, industri kendaraan bermotor, semuanya dirancang berdasarkan logika energi fosil. Jutaan orang menggantungkan pekerjaan di sektor itu, dan ekonomi banyak negara bertumpu pada ekspor minyak, gas, atau batu bara. Mengharapkan perubahan total dalam sekejap sama saja dengan berharap rumah besar bisa dipindah tempat dalam satu malam tanpa merusaknya. Realitas yang lebih masuk akal adalah perubahan bertahap: porsi batu bara dikurangi sedikit demi sedikit, pemakaian gas dan minyak diatur, porsi energi terbarukan dinaikkan tiap tahun, dan efisiensi energi di segala sektor terus ditingkatkan. Seperti orang yang ingin hidup lebih sehat, dia tidak bisa tiba-tiba berhenti makan dan hanya minum jus; yang realistis adalah mengubah pola makan pelan-pelan namun konsisten.
Dalam fase transisi ini, tidak heran jika muncul berbagai klaim dan janji yang kadang terdengar terlalu indah: ada yang mengaku menemukan alat yang bisa menghasilkan energi tanpa bahan bakar, ada yang menawarkan teknologi supermurah yang katanya akan mengalahkan semua pembangkit yang ada, ada pula narasi bahwa penemu-penemu hebat sengaja “dibungkam” oleh konspirasi besar. Sebagian mungkin berangkat dari keinginan tulus untuk mencari jalan keluar, sebagian lagi bisa jadi murni motif bisnis, atau bahkan penipuan yang memanfaatkan harapan dan kebingungan masyarakat. Di sinilah panduan Islam tentang *tabayyun* menjadi sangat relevan.
Allah ﷻ berfirman:
**﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ﴾**
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Sikap meneliti kebenaran berita ini tidak hanya berlaku untuk isu politik, sosial, atau gosip, tetapi juga untuk isu-isu ilmiah seperti energi. Bentuknya bisa berupa keinginan untuk mengecek apakah penjelasan sebuah alat sesuai dengan hukum fisika yang paling dasar, mencari apakah ada uji laboratorium yang independen, atau bertanya apakah ada publikasi yang diakui oleh komunitas ilmiah. Islam tidak mengajarkan kita untuk gampang percaya pada klaim spektakuler, tetapi juga tidak melarang perkembangan teknologi. Sikap yang diminta adalah seimbang: hati-hati, kritis, namun tetap terbuka terhadap kebenaran.
Semua ini mengantarkan kita pada kesimpulan penting: memahami energi bukan urusan ilmuwan saja, tetapi menyentuh kehidupan setiap orang. Cara kita memakai listrik di rumah, cara kita memilih alat elektronik, cara kita bepergian, semua itu jika dikumpulkan akan mempengaruhi arah penggunaan energi di suatu masyarakat. Seorang Muslim tidak dituntut menghafal istilah teknis seperti “kilowatt-hour” atau “emisi per kapita”, tetapi setidaknya memahami bahwa energi fosil terbatas, pemakaiannya membawa dampak, dan energi terbarukan adalah bagian dari ikhtiar untuk menjaga bumi, bukan sekadar tren modern.
Pada titik ini, kita kembali pada satu prinsip pokok: energi adalah amanah. Rasulullah ﷺ bersabda:
**«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»**
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari)
Biasanya hadis ini dipahami dalam konteks keluarga, masyarakat, atau jabatan formal. Namun jika kita renungkan, cakupannya lebih luas. Segala sesuatu yang berada dalam jangkauan pengaruh kita—waktu, harta, ilmu, lingkungan, bahkan energi yang kita pakai—adalah bagian dari “wilayah kepemimpinan” kita di hadapan Allah. Cara kita menyalakan dan mematikan lampu, cara kita membuang-buang atau menghemat bahan bakar, semua itu pada akhirnya adalah rekaman amal yang kelak akan diperlihatkan kepada kita.
Dengan kesadaran seperti ini, isu energi tidak lagi dilihat sekadar sebagai perdebatan teknis antara pakar dan pejabat, tapi sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab pribadi. Kita tidak perlu panik setiap kali mendengar kata “krisis energi” atau “perubahan iklim”, juga tidak perlu larut dalam euforia setiap kali muncul klaim teknologi ajaib. Yang kita perlukan adalah sikap tenang, kritis, dan tunduk kepada Allah: tenang karena tahu bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya, kritis karena Islam memerintahkan kita untuk berfikir dan meneliti, dan tunduk karena kita sadar bahwa bumi ini bukan milik kita sepenuhnya, tetapi titipan yang harus dijaga.
Pada akhirnya, ketika kita menatap cahaya lampu di rumah, mendengar suara mesin kendaraan, atau merasakan sejuknya udara dari sebuah kipas, kita bisa mengingat bahwa di balik semua itu ada rangkaian panjang proses alam, teknologi, kebijakan, dan juga pilihan moral manusia. Semakin kita memahami sumber energi di sekitar kita—dari fosil di perut bumi hingga sinar matahari di langit—semakin jelas bahwa tugas kita bukan sekadar menikmati, melainkan menjaga. Sebab setiap tetes energi yang kita gunakan, sebagaimana setiap detik umur yang kita jalani, kelak akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ﷻ.
Intisari & Pelajaran Utama
Artikel ini mengulas perjalanan energi manusia—dari ketergantungan pada fosil hingga kebutuhan untuk beralih ke energi terbarukan—dalam perspektif syariat: amanah, keseimbangan, dan larangan berlebih-lebihan.
- Kehidupan modern masih sangat bergantung pada energi fosil yang terbatas dan semakin mahal secara teknis.
- Islam melarang israf: boros, tidak efisien, dan menggunakan nikmat Allah tanpa pertimbangan jangka panjang.
- Dampak pembakaran energi fosil nyata: polusi, pemanasan global, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem.
- Energi terbarukan adalah ikhtiar menjaga bumi, namun transisi perlu waktu, kebijakan, dan kesiapan infrastruktur.
- Islam menekankan tabayyun terhadap klaim “teknologi ajaib” atau berita ilmiah yang belum terbukti.
- Energi adalah amanah: setiap pemakaian akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ﷻ.
Kenapa energi fosil jadi masalah?
Karena fosil terbentuk dalam jutaan tahun, sementara manusia menghabiskannya dalam ratusan tahun. Secara praktis, pengambilannya makin sulit, mahal, dan penuh risiko.
Apa hubungan ayat larangan berlebih-lebihan dengan energi?
Israf bukan hanya soal makanan atau gaya hidup, tetapi semua bentuk pemborosan dan ketidakpedulian. Termasuk pola hidup boros energi, sistem produksi tidak efisien, dan eksploitasi tanpa memikirkan dampak.
Bagaimana Islam memandang kerusakan lingkungan?
Al-Qur’an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan manusia. Polusi dan perubahan iklim termasuk dalam kategori ini.
Apakah energi terbarukan pasti jadi solusi?
Ia adalah bagian dari ikhtiar, namun tetap memerlukan investasi besar, teknologi, kebijakan yang konsisten, dan kesiapan jaringan energi nasional.
Kenapa Islam menekankan tabayyun dalam isu energi?
Karena banyak klaim palsu dan teknologi yang belum teruji. Islam mendorong kehati-hatian, verifikasi, dan berpikir ilmiah—tanpa menutup pintu inovasi.
“Energi adalah amanah: ia menerangi rumah kita, menggerakkan peradaban, dan menguji apakah kita menjaga atau merusaknya.”
🔄 Upgrading Diri Setiap Hari
Hidup ini bukan soal sempurna, tapi soal berusaha sedikit lebih baik dari kemarin. Jika Anda ingin punya catatan pribadi untuk mengevaluasi ibadah harian (sholat, tilawah, dzikir, sedekah, dll.), silakan gunakan alat sederhana ini.
Catatan tersimpan di browser Anda sendiri, tidak dilihat orang lain. Cocok untuk muhasabah pelan-pelan, tanpa merasa dihakimi siapa pun.
✍️ Buka Lembar Evaluasi Ibadah Pribadi Disarankan diisi di waktu tenang, misalnya menjelang tidur atau setelah sholat Isya.Ikuti Kaffah Media di Telegram
Dapatkan artikel dakwah, kajian, dan berita Islami terbaru langsung di ponsel Anda.
✦ Kaffah Media — Wawasan, Dakwah, Kajian, dan Berita Islami ✦
