Rahmat, Keadilan, dan Akhir Kehidupan

Rahmat, Keadilan, dan Akhir Kehidupan

Di banyak ruang diskusi, kisah tentang pembunuh seratus orang yang justru masuk surga sering dijadikan bahan sindiran. Begitu pula kisah seorang pelacur yang diampuni karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebaliknya, riwayat tentang ahli ibadah yang pertama kali diseret ke neraka kerap menimbulkan kebingungan. Apakah ini adil? Apakah ini tidak kontradiktif?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul, sesungguhnya yang perlu dibongkar bukanlah hadisnya, melainkan cara berpikir kita yang sering memandang agama sebagai sistem poin aritmetika.

Seorang lelaki telah menumpahkan darah 99 jiwa. Ketika ia mencari fatwa, seorang ahli ibadah berkata tidak ada lagi ampunan baginya. Ia membunuhnya juga hingga genap seratus. Namun ketika ia bertanya kepada seorang alim yang memahami keluasan rahmat Allah, jawabannya berbeda: pintu taubat tidak pernah ditutup. Lelaki itu diperintahkan meninggalkan lingkungannya dan berhijrah menuju negeri yang saleh. Di tengah perjalanan ia wafat. Ia lebih dekat kepada negeri kebaikan, dan Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.

Yang dinilai bukan masa lalunya semata, tetapi arah akhir hidupnya.

Islam tidak menilai manusia dengan kalkulator dosa dan pahala. Yang dinilai adalah revolusi orientasi hidup, kesungguhan taubat, dan kejujuran batin.

Demikian pula kisah wanita pezina yang diampuni karena memberi minum anjing yang kehausan. Perbuatannya tampak kecil, tetapi lahir dari hati yang hidup kembali. Dalam satu momen, nurani yang lama tertutup tersentuh oleh rahmah. Di situlah perubahan sejati dimulai.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.”

Sebaliknya, terdapat riwayat tentang seorang mujahid, seorang dermawan, dan seorang alim yang pertama kali diadili. Amal mereka besar di mata manusia. Namun Allah menyingkap motif terdalam: mereka beramal agar dipuji. Maka amal itu runtuh.

Ibadah tanpa keikhlasan adalah bangunan megah tanpa fondasi.

Peradaban modern menilai manusia dari citra, reputasi, gelar, dan simbol kesalehan. Islam menembus lebih dalam: hati. Seseorang bisa dipuji dunia sebagai tokoh agama, tetapi kosong di sisi Allah. Seseorang bisa dicap pendosa oleh masyarakat, tetapi sedang menuju cahaya di hadapan-Nya.

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Rahmat membuka pintu taubat seluas-luasnya. Keadilan memastikan kemunafikan tidak lolos. Islam menanamkan dua kesadaran besar: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, dan jangan pernah merasa aman dari tipu daya diri sendiri.

Surga bukan hak atas dasar reputasi. Neraka bukan akibat kesalahan sesaat. Yang menentukan adalah hati yang jujur atau hati yang penuh kepalsuan.

Di situlah keadilan Ilahi bekerja — melampaui hitungan manusia, namun tidak pernah melampaui hikmah dan kebenaran.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak