Menumbuhkan Sense of Crisis

Menumbuhkan Sense of Crisis dalam Dakwah

Ketika Dakwah Tidak Lagi Sekadar Wacana

Kita hidup di zaman ketika kerusakan dipertontonkan setiap hari, namun sedikit sekali hati yang benar-benar merasa terganggu. Kemaksiatan dianggap hiburan. Penyimpangan pemikiran dibungkus atas nama kebebasan. Syariat dipandang kuno. Kehormatan agama diinjak, tetapi banyak manusia tetap mampu tertawa, bercanda, dan melanjutkan hidup seolah tidak ada apa-apa.

Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini tidak hanya terjadi pada masyarakat awam. Bahkan sebagian orang yang memiliki ilmu agama, aktif menghadiri kajian, memahami berbagai problem umat, dan mampu berbicara panjang tentang kondisi akhir zaman, terkadang justru kehilangan satu hal paling mendasar: sense of crisis terhadap agama ini.

Padahal, ilmu yang benar seharusnya tidak hanya menambah isi kepala, tetapi juga mengguncang hati. Semakin seseorang memahami Islam, semestinya semakin besar pula keresahannya ketika melihat manusia makin jauh dari petunjuk Allah.

“Masalah terbesar umat ini bukan sekadar kurangnya orang berilmu, tetapi hilangnya hati yang terusik melihat kerusakan.”

Sebab ilmu yang tidak melahirkan kepedulian perlahan hanya akan berubah menjadi hafalan, rutinitas, dan bahan diskusi tanpa ruh perjuangan.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan seorang Muslim, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif umat. Ketika amar makruf nahi mungkar mulai ditinggalkan, sejatinya umat sedang kehilangan salah satu penyangga utama peradabannya.

Ketika Kerusakan Menjadi Hal yang Biasa

Salah satu penyakit paling berbahaya di zaman ini adalah mati rasa. Terlalu sering melihat penyimpangan membuat manusia kehilangan sensitivitasnya. Hati menjadi terbiasa. Jiwa menjadi kebal.

Dulu kemaksiatan dilakukan sembunyi-sembunyi, hari ini dipamerkan dengan bangga. Dulu manusia malu meninggalkan syariat, sekarang justru syariat yang dianggap memalukan.

Ironisnya, sebagian kaum Muslimin hanya sibuk menjadi komentator. Mereka mampu menjelaskan kerusakan sistem pendidikan, ekonomi ribawi, rusaknya media, hancurnya moral generasi muda, hingga dominasi pemikiran sekularisme. Namun semua itu berhenti sebatas analisa.

Tidak lahir dorongan kuat untuk bergerak. Tidak muncul kegelisahan yang mendorong pengorbanan.

Seolah kerusakan umat hanyalah bahan obrolan, bukan luka yang harus diperjuangkan penyelesaiannya.

Yang lebih kompleks lagi, hari ini muncul fenomena sebagian orang yang merasa dirinya sudah berjuang dan berdakwah, tetapi langkah perjuangannya justru tidak pernah benar-benar menyentuh akar persoalan umat.

Mereka sibuk di permukaan, tetapi lupa fondasi. Aktif berbicara tentang akhlak, motivasi, atau sekadar perbaikan personal, namun tidak pernah menyentuh kerusakan sistem yang setiap hari terus memproduksi kerusakan baru.

Padahal problem umat hari ini bukan sekadar individu yang malas mengaji atau generasi muda yang kurang adab. Akar masalahnya jauh lebih besar: sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Akibatnya, dakwah sering kehilangan arah strategis. Banyak energi habis untuk aktivitas yang sifatnya tambal sulam, sementara sumber kerusakan utamanya tetap dibiarkan berdiri kokoh.

Sebagian orang merasa sudah berjuang untuk Islam, padahal yang diperjuangkan belum benar-benar menyentuh akar kerusakan umat.

Ada yang sangat aktif membuat konten dakwah, tetapi tidak pernah membangun kesadaran umat tentang bahaya sekularisme. Ada yang sibuk mengajak hijrah secara personal, tetapi diam terhadap sistem ribawi yang menghancurkan kehidupan masyarakat. Ada pula yang rajin berbicara moralitas, tetapi tidak pernah menyentuh bagaimana media, pendidikan, dan politik sekuler justru terus memproduksi kerusakan moral secara massal.

Akhirnya dakwah berubah menjadi reaktif, sporadis, dan kehilangan visi peradaban. Bergerak ke sana-sini, tetapi tanpa arah perubahan yang jelas.

Inilah salah satu dampak ketika dakwah kehilangan sense of crisis ideologis. Kerusakan hanya dipahami sebagai masalah cabang, bukan persoalan mendasar yang lahir dari diterapkannya sistem hidup selain Islam.

Padahal orang yang benar-benar memahami Islam tidak akan puas hanya memperbaiki serpihan-serpihan kecil, sementara akar kerusakan terus dibiarkan hidup.

Allah ﷻ berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

(QS. Al-Ma’idah: 50)

Ayat ini menunjukkan bahwa pertarungan utama umat sebenarnya bukan sekadar pertarungan moral individu, tetapi pertarungan antara hukum Allah dan hukum buatan manusia.

Karena itu, dakwah Islam seharusnya tidak berhenti hanya pada nasihat personal. Dakwah harus mampu membangun kesadaran umat tentang rusaknya sistem kehidupan yang menjauhkan manusia dari syariat Allah.

Kerusakan tidak akan selesai hanya dengan memperbaiki manusia secara individual, sementara sistem yang merusaknya terus dipertahankan.

Orang yang benar-benar mencintai sesuatu dan memiliki pemahaman yang mendalam tidak akan mampu tenang ketika sesuatu itu tidak berjalan sesuai pemahaman dan pengetahuannya.

  • Seorang dokter akan gelisah melihat pola hidup masyarakat yang merusak kesehatan.
  • Seorang ahli Al-Qur’an akan langsung terusik ketika mendengar bacaan yang salah.
  • Seorang pecinta musik akan peka terhadap nada yang fals dan irama yang kacau.

Maka bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Islam, mengagungkan nabinya tetapi tetap tenang saat syariat Allah diabaikan, generasi muda kehilangan arah, dan umat makin jauh dari agamanya?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

(HR. Muslim)

Hadis ini memperlihatkan bahwa iman memiliki hubungan langsung dengan sensitivitas terhadap kemungkaran. Minimalnya, seorang Muslim tetap harus memiliki penolakan di dalam hati.

Maka ketika kemungkaran sudah tidak lagi menimbulkan kegelisahan, atau perjuangan hanya berhenti pada aktivitas tanpa arah perubahan yang jelas, itu menjadi tanda bahwa ada masalah serius pada sensitivitas iman dan cara pandang dakwah seseorang.

Ilmu Tanpa Amal: Awal dari Kebekuan Jiwa

Persoalan terbesar sebenarnya bukan minimnya ilmu, tetapi terputusnya hubungan antara ilmu dan tanggung jawab.

Hari ini, ilmu sering kali diposisikan hanya sebagai identitas intelektual. Ukurannya sebatas seberapa banyak kitab yang dibaca, seberapa luas wawasan, atau seberapa rapi argumentasi. Padahal dalam Islam, ilmu bukan sekadar kebanggaan intelektual, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Akibatnya, banyak majelis ilmu hanya melahirkan pengamat, bukan penggerak. Pandai menganalisa, tetapi lemah keberanian. Keras dalam perdebatan, tetapi minim pengorbanan.

lebih menyedihkan lagi tidak sedikit orang yang menjadikan hadis-hadis tentang fitnah akhir zaman sebagai alasan untuk menarik diri dari tanggung jawab sosial dan dakwah. Padahal Nabi ﷺ tidak pernah mengajarkan sikap apatis terhadap kerusakan. Justru di tengah rusaknya keadaan, amar makruf nahi mungkar menjadi semakin penting. Sebab keberadaan orang-orang yang tetap menjaga kebenaran di masa sulit itulah yang menjadi benteng terakhir umat.

Seolah-olah karena zaman rusak, maka diam dianggap pilihan paling aman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan yang melanggarnya seperti suatu kaum yang berada di atas kapal. Sebagian berada di atas dan sebagian di bawah. Orang-orang yang di bawah jika membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang di atas. Lalu mereka berkata: ‘Seandainya kita melubangi kapal ini agar tidak mengganggu orang di atas.’ Jika mereka membiarkannya, semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, semuanya akan selamat.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan bahwa kerusakan yang dibiarkan tidak hanya menghancurkan pelaku kemungkaran, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Sikap diam terhadap penyimpangan pada akhirnya akan menyeret semua menuju kehancuran bersama.

“Kerusakan yang terus dibiarkan perlahan akan dianggap normal. Dan hati yang terlalu lama diam akhirnya kehilangan keberanian untuk peduli.”

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa ilmu dan ucapan tanpa kesungguhan amal dapat berubah menjadi petaka bagi pelakunya sendiri. Dalam Islam, ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk mengubah diri dan realita kehidupan.

Mengapa Sense of Crisis Itu Penting dalam Dakwah?

Dakwah tanpa keresahan akan berubah menjadi formalitas. Sekadar aktivitas rutin tanpa energi perubahan.

Seseorang mungkin tetap hadir di majelis ilmu, tetap aktif dalam komunitas dakwah, bahkan tetap berbicara tentang umat. Namun ketika hatinya tidak lagi merasakan urgensi perjuangan, maka dakwah perlahan kehilangan ruhnya.

Karena sejatinya, dakwah lahir dari hati yang tidak rela melihat manusia jauh dari Allah.

Nabi ﷺ tidak berdakwah sekadar untuk menyampaikan informasi agama. Beliau membawa risalah dengan tangisan, pengorbanan, tekanan, dan kepedulian luar biasa terhadap keselamatan umatnya.

Inilah yang hari ini mulai langka: dakwah yang lahir dari hati yang hidup.

Allah ﷻ berfirman:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

(QS. Ali ‘Imran: 110)

Kemuliaan umat Islam bukan terletak pada jumlahnya, bukan pula pada kejayaan sejarahnya semata, tetapi pada kesediaannya menjaga nilai kebenaran di tengah manusia. Ketika amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, maka identitas “khairu ummah” perlahan kehilangan maknanya.

KABAR GEMBIRA DARI RASULULLAH ﷺ

Bertahan di Tengah Kerusakan adalah tanda kemuliaan.

Di tengah zaman yang penuh fitnah, ketika manusia makin jauh dari agama, ketika mempertahankan kebenaran terasa asing, berat, bahkan sering dianggap berlebihan Rasulullah ﷺ justru memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang tetap istiqamah memegang agama dan terus memperjuangkannya.

Apa yang hari ini terasa berat sebenarnya telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ sejak dahulu. Bahwa akan datang masa ketika memegang agama bukan lagi perkara mudah, tetapi seperti menggenggam bara api.

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang suatu zaman kepada manusia, orang yang bersabar memegang agamanya seperti menggenggam bara api.”

(HR. Tirmidzi)

Bara api tidak nyaman digenggam. Panas, menyakitkan, dan membuat manusia ingin melepaskannya. Begitulah gambaran beratnya istiqamah di akhir zaman. Tekanan lingkungan, arus pemikiran sekularisme, budaya maksiat, hingga cibiran terhadap orang yang serius menjaga agama akan terus menguji keimanan.

Namun justru di tengah kondisi seperti inilah nilai perjuangan seorang Mukmin menjadi sangat besar di sisi Allah.

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، لِلْمُتَمَسِّكِ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya di belakang kalian akan datang hari-hari penuh kesabaran. Orang yang tetap berpegang teguh pada agama saat itu akan mendapatkan pahala seperti lima puluh orang di antara kalian.”

Para sahabat bertanya: “Lima puluh dari mereka atau dari kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan lima puluh dari kalian.”

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

Hadis ini bukan berarti orang akhir zaman lebih mulia dari para sahabat. Tidak. Para sahabat tetap generasi terbaik umat ini. Namun hadis ini menunjukkan betapa beratnya mempertahankan agama di tengah kerusakan zaman, sehingga Allah memberikan pahala yang sangat besar bagi mereka yang tetap istiqamah.

“Ketika manusia memilih mengikuti arus, orang yang tetap memegang kebenaran akan terlihat asing. Tetapi justru orang-orang asing itulah yang dipuji oleh Rasulullah ﷺ.”
فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”

(HR. Muslim)

Asing karena tetap menjaga iman ketika banyak manusia melalaikannya. Asing karena tetap peduli terhadap umat ketika banyak orang memilih sibuk dengan dirinya sendiri. Asing karena tetap memperjuangkan Islam ketika sebagian manusia mulai lelah berbicara tentang perjuangan.

Maka jangan pernah merasa kecil ketika memilih tetap istiqamah di tengah zaman yang rusak. Karena bisa jadi, justru itulah jalan yang sedang Allah muliakan di sisi-Nya.

Bagaimana Menumbuhkan Sense of Crisis?

Kepekaan terhadap kondisi umat tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari hati yang hidup, ilmu yang benar, serta kedekatan terhadap realita perjuangan. Karena itu, membangun sense of crisis bukan sekadar urusan emosional, tetapi bagian dari proses tarbiyah iman, fikrah, dan kepedulian terhadap nasib umat Islam.

01

Dekat dengan Realita Umat

Terlalu lama hidup di ruang nyaman membuat hati kehilangan sensitivitas. Banyak orang akhirnya hanya memahami kerusakan umat sebagai angka, berita, atau bahan diskusi—bukan luka yang harus dirasakan.

Karena itu, penting untuk melihat langsung kondisi masyarakat: rusaknya moral generasi muda, tekanan ekonomi akibat sistem ribawi, krisis keluarga, budaya hedonisme, hingga derasnya arus sekularisme yang menjauhkan manusia dari syariat Allah.

“Ketika ilmu bertemu realita, hati akan mulai sadar bahwa umat ini benar-benar sedang tidak baik-baik saja.”
Jangan hanya membaca problem umat dari layar.
Hadir dan dengarkan langsung keresahan masyarakat.
02

Meluruskan Kembali Orientasi Ilmu

Dalam Islam, ilmu bukan sekadar alat untuk terlihat pintar, memenangkan perdebatan, atau membangun citra intelektual. Ilmu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Hari ini banyak manusia sibuk memperluas wawasan, tetapi lupa memperdalam rasa takut kepada Allah. Akibatnya ilmu hanya berhenti di kepala, tidak turun menjadi kepedulian dan perjuangan nyata.

“Ilmu yang benar tidak membuat seseorang merasa paling tinggi, tetapi membuatnya paling takut saat melihat manusia makin jauh dari Allah.”
QS. Fathir : 28

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”

03

Menghidupkan Ruh Sirah dan Perjuangan

Sirah Nabawiyah bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah sumber energi ruhiyah yang menghidupkan hati dan membangun mental perjuangan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi memikul beban umat dengan penuh kepedulian. Beliau menangis memikirkan manusia, menghadapi penolakan, tekanan, dan pengorbanan demi menyelamatkan umat dari kesesatan.

Begitu pula para sahabat. Mereka tidak menjadikan Islam sekadar identitas, tetapi perjuangan hidup yang diperjuangkan dengan harta, tenaga, bahkan nyawa.

“Hati yang akrab dengan sirah perjuangan akan sulit nyaman menjadi penonton kerusakan.”
04

Membangun Lingkungan yang Peduli terhadap Dakwah

Lingkungan sangat memengaruhi arah hati seseorang. Jika seseorang hidup di tengah budaya apatis, maka lama-kelamaan ia akan terbiasa dengan sikap diam terhadap kemungkaran.

Sebaliknya, berada di tengah orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap dakwah akan menjaga semangat, kesadaran, dan orientasi perjuangan tetap hidup.

Karena itu, penting untuk membangun komunitas yang saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menjaga agar tetap istiqamah di jalan dakwah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.”

(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka secara merata.”

(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Karena itu, rasa peduli terhadap kondisi umat bukan sekadar persoalan aktivisme dakwah, tetapi bagian dari konsekuensi iman. Umat yang kehilangan kepedulian terhadap kerusakan akan perlahan kehilangan daya hidupnya sebagai umat pembawa risalah.

Penutup

Umat ini tidak kekurangan orang pintar. Umat ini sedang kekurangan manusia yang hatinya benar-benar hidup.

Karena hati yang hidup tidak akan nyaman melihat kemungkaran dinormalisasi. Tidak akan tenang ketika syariat Allah ditinggalkan. Tidak akan betah menjadi penonton saat generasi umat kehilangan arah hidupnya.

Ketika sense of crisis itu tumbuh, dakwah tidak lagi terasa sebagai beban. Ia berubah menjadi panggilan jiwa. Akan selalu ada dorongan untuk berbuat, memperbaiki, mengingatkan, dan mengambil peran—meski kecil dan sederhana.

Sebab orang yang benar-benar sadar tidak akan mampu diam terlalu lama saat agama Allah terus disingkirkan dari kehidupan manusia.

🤲 Dukung Operasional Dakwah Keberlangsungan konten ideologis ini ada di tangan Anda. Setiap rupiah adalah investasi jariyah untuk menjaga lisan dakwah tetap tegak.
📡 Ikuti Saluran Kaffah Media Dapatkan update artikel terbaru langsung ke WhatsApp Anda tanpa terhalang algoritma media sosial.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak