Mengapa Banyak Diskusi Tidak Pernah Selesai? Memulai dari Fondasi, Bukan dari Cabang
Di era media sosial dan derasnya arus informasi, diskusi seakan menjadi aktivitas yang tidak pernah berhenti. Setiap hari kita menyaksikan perdebatan tentang berbagai persoalan besar: Islam dan sekularisme, syariah dan demokrasi, ekonomi Islam dan kapitalisme, hingga berbagai isu sosial politik lainnya.
Namun, ada satu fenomena yang menarik sekaligus menggelisahkan. Meskipun perdebatan berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari, sering kali tidak ada kesimpulan konkret yang dihasilkan. Masing-masing pihak tetap bergeming pada pendiriannya. Argumen demi argumen dilontarkan, tetapi yang tersisa di akhir hari justru kelelahan, luapan emosi, dan terkadang permusuhan.
Pertanyaannya: mengapa hal ini bisa terjadi?
Masalahnya sering kali bukan karena topik yang dibahas terlalu rumit atau pelik, melainkan karena diskusi dimulai dari tempat yang salah. Banyak orang terburu-buru memperdebatkan persoalan teknis (cabang) sebelum menyepakati prinsip yang paling mendasar (akar). Padahal, sebuah sistem pemikiran tidak dibangun dari rantingnya, melainkan dari fondasinya. Ketika fondasi itu belum dipahami atau disepakati, perdebatan mengenai rincian hanya akan melahirkan lingkaran setan yang tidak berujung.
Ketika Perselisihan Menjadi Keniscayaan
Perbedaan pendapat sejatinya adalah bagian dari tabiat manusia. Selama manusia memiliki cara pandang, pengalaman hidup, dan latar belakang yang berbeda, maka perbedaan akan selalu ada. Namun, Islam tidak membiarkan perselisihan ini berlangsung tanpa arah dan tanpa standar penyelesaian yang jelas.
"Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya."
(QS. An-Nisa': 59)
Ayat di atas memberikan pelajaran penting: ketika terjadi perselisihan, yang harus dicari pertama kali bukanlah siapa yang paling populer, siapa yang memiliki pendukung paling banyak, atau siapa yang paling piawai bersilat lidah. Yang harus dicari adalah standar kebenaran yang menjadi rujukan bersama.
Oleh karena itu, setiap diskusi yang tulus mencari kebenaran harus diawali dengan menyepakati satu hal: dari mana sumber rujukan kita?
Akar Perbedaan Berada pada Sumbernya (Mashdar at-Talaqqi)
Banyak orang mengira perdebatan terjadi karena perbedaan kesimpulan akhir. Padahal dalam banyak kasus, jurang pemisah itu sudah muncul jauh sebelum kesimpulan dibuat, yaitu pada sumber atau metodologi yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan tersebut.
Sebagai contoh, seorang muslim meyakini bahwa standar halal dan haram mutlak ditentukan oleh wahyu. Sebaliknya, paradigma sekular menempatkan manusia sebagai otoritas tertinggi yang berhak menentukan hukum berdasarkan kesepakatan mayoritas atau pertimbangan rasional semata.
Jika sumber pengambilan hukumnya saja sudah bertolak belakang, maka sangat wajar apabila kesimpulan teknis yang dihasilkan tidak akan pernah bertemu. Dalam tradisi pemikiran Islam, persoalan fundamental ini dikenal sebagai mashdar at-talaqqi (sumber penerimaan hukum dan pemikiran).
"Cabang-cabang pemikiran mengikuti asas-asasnya."
Kaidah ini menjelaskan bahwa suatu kesimpulan tidak dapat dipisahkan dari fondasi yang melahirkannya. Jika asasnya berbeda, maka cabang yang lahir darinya pun pasti berbeda. Membahas cabang sebelum menuntaskan persoalan asas adalah kesia-siaan.
Memulai dari Titik Temu, Bukan Titik Tengkar
Dalam setiap diskusi yang sehat, langkah pertama yang krusial adalah menemukan titik temu, bukan langsung menonjolkan perbedaan.
Ketika membahas penerapan syariah, misalnya, orang sering kali langsung melompat pada isu-isu sensitif seperti hukum pidana, aturan berpakaian, atau mekanisme pemerintahan. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan harus diselesaikan terlebih dahulu adalah:
“Apakah kita sepakat bahwa hukum Allah itu wajib diterapkan bagi setiap muslim?”
Jika pertanyaan ini belum selesai dibahas dan disepakati, maka memperdebatkan rincian teknis pelaksanaan di lapangan hanya akan memperpanjang daftar perdebatan tanpa pernah menyentuh esensi persoalan.
Kesalahan Umum: Mengukur Sesuatu dengan Meteran yang Salah
Penyebab lain mengapa diskusi sering menemui jalan buntu adalah karena masing-masing pihak menggunakan "alat ukur" yang berbeda. Akibatnya, yang terjadi bukanlah dialog yang saling memahami, melainkan dua orang yang berbicara dengan bahasa nilai yang asing satu sama lain.
Sebagai contoh, kapitalisme menempatkan pertumbuhan ekonomi materi dan keuntungan finansial sebagai parameter mutlak keberhasilan. Sementara itu, Islam tidak hanya memandang aspek materi, tetapi juga menimbang aspek halal-haram, keadilan distribusi, keberkahan, serta pertanggungjawaban di akhirat.
Fokus pada Satu Persoalan (Hindari Debat Kusir)
Salah satu ciri utama dari debat kusir adalah topiknya yang terus melompat-lompat. Ketika sebuah argumen mulai terdesak, pembahasan segera dialihkan ke isu lain. Saat membahas sumber hukum, tiba-tiba berpindah ke masalah ekonomi. Ketika aspek ekonomi mulai dikuliti, pembicaraan bergeser lagi ke sejarah, lalu meloncat ke personaliti tokoh tertentu. Akhirnya, tidak ada satu pun topik yang benar-benar selesai dibahas.
Oleh karena itu, ruang lingkup diskusi harus dibatasi secara disiplin menggunakan tingkatan berpikir yang runut:
- Apa sumber kebenarannya?
- Siapa yang berhak membuat hukum?
- Apa landasan berpikirnya?
- Apa tujuan sistem ini?
- Apa ukuran keberhasilannya?
- Apa standar benar dan salahnya?
- Bagaimana penerapannya?
- Bagaimana mekanismenya?
- Bagaimana rincian pelaksanaannya?
Semakin ke atas, pembahasan menjadi semakin mendasar (fondasi). Semakin ke bawah, pembahasan menjadi semakin praktis (teknis). Diskusi yang sehat dan mencerahkan harus bergerak tertib dari Level 1 menuju Level 3, bukan sebaliknya.
Studi Kasus: Sengkarut Perdebatan Khilafah vs Demokrasi
Salah satu contoh konkret yang paling sering kita jumpai adalah perdebatan mengenai Khilafah dan Demokrasi. Banyak orang langsung terjebak membahas teknis pemilu, parlemen, konstitusi, atau hak-hak politik. Padahal akar masalahnya bukan di sana.
Pertanyaan fundamental di Level 1 yang semestinya dijawab adalah: "Siapakah pemilik kedaulatan tertinggi?"
- Demokrasi menjawab: Kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.
- Islam menjawab: Kedaulatan tertinggi berada di tangan Syariat (Allah SWT).
Selama perbedaan di Level 1 ini tidak diurai dan dipahami duduk perkaranya, maka diskusi di tingkat parlemen atau pemilu hanya akan menjadi perdebatan yang berputar-putar tanpa arah.
Menjaga Energi untuk Mencari Kebenaran
Tujuan akhir dari sebuah diskusi seharusnya adalah menemukan kebenaran, bukan memenangkan ego pertarungan argumentasi.
Oleh karena itu, tidak semua perdebatan harus dilayani atau dilanjutkan. Jika pada tingkat fondasi (Level 1) ternyata tidak ditemukan kesepakatan atau kesediaan untuk menyepakati standar rujukan, maka langkah yang lebih bijak adalah menyudahi diskusi atau kembali fokus membedah fondasi tersebut. Memaksakan membahas cabang ketika akarnya rapuh hanya akan memperpanjang jalan menuju kebuntuan.
Dengan memulai dari fondasi, diskusi kita akan menjadi jauh lebih terarah dan elegan. Energi tidak akan habis terkuras untuk saling menyanggah tanpa ujung.
Mulailah dari prinsip, pahami standar nilainya, baru bahas teknisnya. Sebab, sebuah bangunan yang kokoh selalu berdiri di atas fondasi yang kuat, bukan di atas cabang-cabang pohon yang menggantung di udara.