Seri Dekonstruksi Adab: Bagian 12
"Perbedaan adalah keniscayaan, namun perpecahan adalah kegagalan adab. Iman yang satu seharusnya melahirkan rasa sakit yang sama saat saudaranya terluka."
Ukhuwah: Lebih dari Sekadar Persaudaraan Biologis
Dunia modern mencoba menyatukan manusia melalui identitas nasionalisme, etnisitas, atau hobi. Namun, ikatan tersebut seringkali rapuh saat kepentingan pribadi terusik. Islam menawarkan Ukhuwah Islamiyah—sebuah ikatan yang melampaui batas geografis dan genetik, yang fondasinya adalah kalimat Tauhid.
Secara ideologis, beradab kepada sesama Muslim berarti memposisikan mereka sebagai bagian dari tubuh kita sendiri. Jika tangan kanan terluka, mata akan menangis. Adab melarang kita merendahkan, menghina (tasykhis), atau mencari-cari kesalahan saudara sendiri (tajassus) demi memenangkan ego kelompok.
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak pula menyerahkannya (kepada musuh)." (HR. Muslim).
Menjaga Kehormatan di Era Digital
Fitnah perpecahan saat ini paling banyak terjadi di layar ponsel. Adab menuntut kita untuk tetap bersikap ksatria bahkan dalam perdebatan. Menghormati privasi, menjaga lisan dari namimah (adu domba), dan memberikan udzur (sangka baik) adalah benteng pertahanan terakhir agar umat tidak hancur dari dalam.
Solidaritas berbasis iman bukan berarti setuju dalam segala hal. Namun, adab memastikan bahwa perbedaan pendapat tidak berubah menjadi kebencian yang menghalalkan segala cara. Kita tetap bersaudara di bawah panji yang sama, saling menopang dalam kebajikan, dan saling menasihati dalam kebenaran dengan cara yang paling santun.
Kesimpulan: Kekuatan dalam Kesantunan
Kekuatan umat Islam bukan terletak pada jumlahnya, melainkan pada kerapatan barisannya. Kerapatan itu hanya bisa dicapai jika setiap individu mempraktikkan adab dalam berinteraksi. Dengan menghidupkan kembali adab solidaritas, kita sedang membangun peradaban yang tangguh, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh narasi kebencian dan politik pecah belah.
