Algoritma: Murobbi Tak Terlihat di Balik Layar

Algoritma: Murobbi Tak Terlihat di Balik Layar Medsos — KaffahMedia

Banyak orang merasa bebas di media sosial. Padahal apa yang mereka lihat, pikirkan, dan anggap penting, sering kali sudah terlebih dulu ditentukan oleh sesuatu yang tak pernah mereka lihat: algoritma. Di sinilah seorang Muslim perlu sadar, bahwa di balik layar ada “murobbi tak terlihat” yang ikut membentuk cara kita memandang dunia.

Bayangkan seorang bapak yang membuka ponsel hanya untuk “lihat sebentar”. Ia berniat mengecek pesan, tapi matanya singgah pada satu video lucu, lalu satu lagi, dan satu lagi. Lima belas menit kemudian, ia sudah tertawa, tersinggung, marah, dan berkomentar di kolom komentar. Ia merasa, “Saya cuma iseng kok, cuma lihat yang lewat di beranda.”

Yang jarang ia sadari: beranda itu tidak netral. Isi di dalamnya tidak datang secara kebetulan. Ada “tangan” yang memilihkan, menyusun, dan mengulang-ulang jenis konten tertentu untuknya. Tangan itu bukan makhluk gaib, tetapi rangkaian aturan di belakang layar yang disebut algoritma.

Apa Itu Algoritma, Versi Orang Awam?

Dalam bahasa teknis, algoritma adalah serangkaian instruksi atau aturan yang dijalankan komputer untuk mengambil keputusan. Tapi bagi orang awam, kita bisa mengibaratkannya sebagai “kepala dapur” yang menentukan menu apa yang disajikan di meja kita setiap hari.

Di media sosial, algoritma memutuskan:

  • Postingan siapa yang muncul paling atas di beranda Anda.
  • Video jenis apa yang direkomendasikan setelah Anda menonton satu video.
  • Topik apa yang “diangkat” terus-menerus sampai terasa normal.
  • Dan topik apa yang jarang muncul, seakan-akan tidak penting.

Algoritma itu tidak punya hati, tidak punya iman. Ia hanya menjalankan perintah yang diberikan oleh pemilik platform: buat pengguna betah, lama, dan aktif. Semakin lama orang bertahan, semakin banyak iklan yang bisa dijual, semakin besar data yang bisa dikumpulkan, semakin kuat pengaruh yang bisa dimainkan.

Singkatnya: algoritma bukan sekadar urutan angka. Ia adalah cara peradaban hari ini mengatur perhatian manusia. Siapa menguasai perhatian, ia menguasai cara manusia melihat dunia.

Dari Sekadar Nonton, Menjadi Terbentuk

Pada awalnya, algoritma hanya mengamati: Anda suka klik apa, tonton apa, berhenti di mana, melewati apa. Lalu ia mulai menebak: kalau Anda suka video lucu, ia sodorkan lebih banyak video lucu; kalau Anda suka konten gosip, ia sodorkan lebih banyak gosip; kalau Anda suka konten yang memancing emosi, ia sodorkan konten yang lebih ekstrem.

Lama-lama, tanpa sadar:

  • Selera Anda dibentuk. Apa yang dulu terasa biasa saja, kini terasa membosankan. Anda butuh yang lebih lucu, lebih seram, lebih mengejutkan.
  • Standar normal Anda bergeser. Pakaian, gaya bicara, topik bercanda—yang dulu dianggap tabu, perlahan terasa “ya sudahlah, semua orang juga begitu”.
  • Cara Anda menilai sesuatu ikut berubah. Yang sering muncul di beranda terasa “penting”, sedangkan yang jarang muncul terasa tidak relevan.

Di titik ini, algoritma bukan lagi sekadar mesin rekomendasi. Ia sudah menjadi murobbi budaya dan perilaku: membimbing, mengulang, dan menguatkan pola tertentu di kepala penggunanya—terutama mereka yang tidak terbiasa berpikir kritis.

Bukan Cuma Hiburan: Algoritma Juga Mengasuh Sikap Politik dan Agama

Banyak orang mengira algoritma hanya mengatur hiburan. Padahal ia juga mengatur:

  • Konten politik apa yang sering muncul dan digoreng terus.
  • Ceramah agama model apa yang dipopulerkan.
  • Isu apa yang dibesarkan, dan isu apa yang diperkecil.

Tidak semua konten agama diperlakukan sama. Sering kali, ceramah yang:

  • ringan, lucu, menghibur,
  • atau yang memosisikan agama sebatas urusan moral pribadi,

lebih mudah mendapat tempat di beranda, dibanding konten yang mengajak berpikir sistemik: bicara syariah sebagai aturan hidup, bicara khilafah, bicara kezaliman tatanan global.

Perlahan, terbentuklah kesan di benak banyak orang:

  • “Islam yang baik itu yang santai, tidak usah banyak bicara sistem.”
  • “Kalau bicara syariah kaffah, seakan-akan itu berbahaya, tidak realistis, mengganggu ketertiban.”

Padahal ini bukan sekadar “selera masyarakat”. Ini adalah hasil seleksi dan pengulangan yang dilakukan algoritma, berdasarkan standar yang ditetapkan pemilik platform dan peradaban yang menaunginya.

Ketika algoritma mengangkat satu jenis ustadz dan menenggelamkan yang lain, pada saat itu ia sedang ikut menentukan wajah Islam seperti apa yang dianggap normal di mata umat.

Kaum Awam: Korban Paling Empuk

Kaum awam adalah mereka yang paling banyak mengonsumsi media sosial. Mereka lelah oleh urusan kerja, penat oleh urusan rumah, dan menjadikan ponsel sebagai pelarian singkat. Wajar. Manusiawi. Tetapi di situ pula letak kerentanannya.

Kebanyakan dari mereka:

  • tidak punya waktu banyak untuk membaca buku tebal,
  • tidak terbiasa memeriksa sumber,
  • dan tidak mengira bahwa ada desain besar di balik apa yang muncul di layar kecil itu.

Pada akhirnya, logika yang bekerja di benak mereka sederhana: “Kalau sering muncul, berarti banyak yang setuju. Kalau banyak yang setuju, berarti benar.” Ini sangat berbahaya ketika yang sering muncul itu adalah:

  • konten yang meremehkan agama, menertawakan syariat, atau menggambarkan aktivis dakwah sebagai sumber masalah;
  • narasi politik yang menyederhanakan persoalan umat menjadi soal figur dan drama, bukan soal sistem dan ideologi;
  • gaya hidup yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, bukan sarana untuk taat.

Jika tidak disadari, kaum awam bisa menjadi umat yang dibesarkan oleh algoritma, bukan dibesarkan oleh majelis ilmu dan tarbiyah yang lurus.

Islam Juga Membentuk Manusia, Tapi dengan Wahyu, Bukan Algoritma Korporasi

Di satu sisi, Islam juga ingin membentuk manusia: cara berpikir, rasa, dan sikapnya. Islam punya manhaj tarbiyah yang jelas:

  • membiasakan manusia berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Sunnah,
  • mengajaknya duduk di hadapan guru yang amanah,
  • menghubungkan hati dengan akhirat dan ridha Allah,
  • serta mengarahkan amal untuk menegakkan syariah-Nya secara kaffah.

Perbedaannya dengan algoritma media sosial sangat mendasar:

  • Tarbiyah Islam bertujuan mengantarkan manusia kepada ketaatan dan keselamatan akhirat.
  • Algoritma korporasi bertujuan membuat manusia betah, aktif, dan menguntungkan secara bisnis dan politis.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menyerahkan diri sepenuhnya kepada “murobbi digital” ini. Ia boleh memanfaatkan media sosial, tetapi ia harus tetap punya kompas sendiri: akidah, syariah, dan kesadaran peradaban.

Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan Pengguna Biasa

Kita tidak bisa serta-merta mengubah algoritma global. Itu butuh kekuatan politik dan peradaban. Namun sebagai individu, ada beberapa langkah kecil yang bisa dilakukan:

  • Sadar bahwa beranda tidak netral. Setiap kali membuka aplikasi, ucapkan dalam hati: “Ini bukan dunia apa adanya. Ini apa yang mereka pilihkan untuk saya.”
  • Pilih siapa yang diikuti. Kurangi mengikuti akun-akun yang hanya memancing nafsu, emosi, dan kelalaian. Perbanyak mengikuti akun yang menguatkan iman, ilmu, dan kesadaran politik Islam.
  • Batasi waktu tanpa rasa bersalah. Menutup aplikasi bukan dosa. Justru kadang itu bentuk penjagaan hati dan akal.
  • Kembalikan rujukan utama kepada guru dan kitab. Jangan menjadikan cuplikan singkat di medsos sebagai satu-satunya sumber ilmu dan fatwa.

Tapi di atas semua itu, kita perlu jujur: langkah pribadi ini penting, namun belum cukup. Sebab algoritma hari ini bergerak dalam kerangka peradaban yang tidak menjadikan ridha Allah sebagai tujuan.

Mengapa Umat Butuh Peradaban Sendiri

Selama peradaban yang berkuasa adalah peradaban kapitalisme-sekular, algoritma akan terus diarahkan untuk tujuan mereka: laba, dominasi, dan hegemoni makna. Umat Islam akan terus menjadi pengguna, bukan pemilik. Disuapi, bukan mengatur.

Bayangkan jika suatu hari kelak, peradaban Islam kembali tegak. Negara yang memimpin umat tidak hanya mengatur zakat dan shalat, tetapi juga:

  • mengembangkan teknologi dan platform sendiri,
  • menetapkan standar konten berdasarkan syariah, bukan berdasarkan pasar,
  • menggunakan algoritma untuk menyebarkan ilmu yang benar, bukan kesia-siaan massal.

Saat itulah, teknologi tidak lagi menjadi alat pembentukan manusia dalam kerangka kufur, tetapi menjadi alat untuk menolong manusia mengenal Tuhannya dan menjalani hidup sesuai aturan-Nya.

Sampai hari itu tiba, tugas kita adalah membuka mata umat: bahwa feed yang mereka lihat setiap hari bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari arus besar pembentukan cara pandang. Seorang Muslim tidak boleh hanyut tanpa sadar.


Tulisan ini adalah bagian dari upaya kecil untuk membongkar peran algoritma dalam kehidupan kita. Pada seri berikutnya, insya Allah kita akan melanjutkan dengan pembahasan yang lebih spesifik tentang:

  • bagaimana algoritma dan AI digunakan untuk menyensor dan menstigma Islam kaffah,
  • serta bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika dakwahnya berhadapan dengan “tembok algoritma”.

Di balik layar, ada yang mendidik kita. Pertanyaannya sederhana:
siapa murobbi yang kita izinkan membentuk diri dan keluarga kita?

🤲 Dukung Kaffah Media Bantu jaga dakwah dan konten ideologis tetap berjalan.
📡 Ikuti Saluran Kaffah Media Semua artikel baru & catatan ideologis langsung ke perangkatmu. Tanpa tergantung algoritma.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak